Lihat ke Halaman Asli

Fadli Firas

Sang Penjelajah

Honeymoon Keliling ASEAN ala Backpacker (13-habis): Takana Jo Bukittinggi

Diperbarui: 11 April 2016   11:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Jam Gadang dan bangunan pemerintahan yang menggunakan atap khas Minangkabau"][/caption]

Pagi ini, di hari keempatbelas, 4 Februari 2016, kami akan meninggalkan Hanoi, Vietnam. Sebelum mentari menampakkan dirinya kami sudah bergegas check out dari hotel menuju pool bus bandara di dekat kantor Vietnam Airlines dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak begitu jauh, masih berada di kawasan yang sama, Old Quarter. Bus bandara bergerak pukul 7 pagi menuju Bandara No Bai Hanoi selama 45 menit perjalanan. Kabut masih menyelimuti Hanoi. Musim dingin masih setia berada di ibukota Negara Vietnam ini.

Pesawat Air Asia akan membawa kami dari Hanoi ke Kualalumpur, Malaysia pada pukul 9.45 waktu Vietnam (Tidak ada perbedaan waktu dengan Indonesia). Perjalanan antar dua negara tersebut ditempuh selama 2 jam. Menjelang siang pesawat mendarat di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2. Dari sini kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke negeri tercinta Indonesia tepatnya menuju Pekanbaru.

Pekanbaru hanya menjadi persinggahan sementara. Sejatinya kami hendak menuju kota wisata di Sumatera Barat, Bukittinggi. Perjalanan dari Pekanbaru ke Bukittinggi normalnya memakan waktu 5 jam perjalanan. Kami menggunakan minibus alias mobil APV pada salah satu agen travel di daerah Panam dengan ongkos Rp. 110 ribu per orang. Tak sabar rasanya ingin menikmati perjalanan yang menanjak menuju kota di atas puncak, Bukittinggi.

[caption caption="Bandara di Pekanbaru"]

[/caption]

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa tidak transit via Padang saja yang juga memiliki rute pesawat langsung ke Kualalumpur? Terlebih lagi jarak Padang-Bukittinggi lebih dekat dibandingkan dengan Pekanbaru. Sengaja kami tidak memilih alternatif tersebut karena pertimbangan jadwal keberangkatan yang tidak sesuai. Selain itu, karena jalur Pekanbaru-Bukittinggi ini akan melewati sebuah jalan cantik nan artistik yang dikenal dengan “kelok sembilan” (walau pada akhirnya kami tidak bisa melihatnya karena jadwal bus yang ngaret sehingga hanya terlihat gelap di malam hari. Fiuuh).

Tujuan kami ke Kota Wisata Bukittinggi tentu saja tidak sekadar berwisata. Tetapi hendak berkunjung ke rumah nenek. Meski usia nenek sudah 80-an namun masih tetap terlihat bersemangat. Mungkin resep dari kebiasaan bangun pagi sebelum subuh yang sering dilakoninya. Rumah nenek terletak di perbatasan Kota Bukittinggi dengan Kabupaten Agam tak jauh dari Desa Pekankamis. Sebenarnya rumah nenek saya ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Agam. Tetapi karena jarak yang lebih dekat ke Bukittinggi dibandingkan dengan Ibukota Kabupaten Agam, Lubuk Basung, sehingga kami lebih sering menyebutnya sebagai Bukittinggi. Bahkan segala aktifitas dan kebutuhan semuanya dilakukan di wilayah kota yang terletak di atas bukit nan tinggi ini.

Rumah nenek yang berada di pinggiran Kota Buktinggi menghadirkan panorama pedesaan yang dipenuhi dengan bentangan sawah yang luas dimana-mana. Pesona perbukitan pun sangat mudah dilihat sejauh mata memandang. Di sini juga banyak terdapat pertambakan ikan yang dibangun di sebelah rumah. Beberapa rumah warga ada yang menempatkan kuburan keluarganya di halaman rumah. Jalanan di sini semuanya sudah berlapis aspal meski hanya selebar 3 meter. Semuanya serba hijau. Ah segarnya...

[caption caption="Jalanan di sekitar rumah nenek"]

[/caption]

 

[caption caption="Pemandangan di sekitar rumah nenek"]

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline