Lihat ke Halaman Asli

Untukmu yang Memilih Pergi

Diperbarui: 5 Maret 2016   23:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Untuk mu yang pernah singgah di hati dan hidupku...
Malam ini ketika kebuntuan ide kurasakan, tiba-tiba aku teringat dirimu. Izinkan aku menyapamu setelah 7 tahun perpisahan kita. Apa kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Bolehkah aku juga bertanya kabar kedua orang tua mu? Bagaimana keadaan mereka? Terkadang aku masih rindu dengan masakan ibumu yang kau antarkan untuk makan sahurku.

Sudah lama kita tak pernah berjumpa, padahal kita masih tinggal satu kota bukan? Apa kesibukanmu sekarang ini? Sudah selesaikah pendidikan dokter spesialis mu itu? Jangan tanya dari mana aku tahu tentang itu, karena sejujurnya sejak kepergianmu sore itu, aku sedikitpun tak pernah melupakanmu.
Jangan bangga dulu, karena tak pernah melupakan bukan berarti aku masih mencinta. Bagaimana mungkin aku bisa lupa setelah 3 tahun kita bersama? Ku rasa hanya amnesia yang mampu membuatku melupakan segala memori tentang mu. Tetapi, nyatanya aku masih normal-normal saja dan kenangan itu masih melekat kuat dalam ruang hati.

Bagaimana dengan mu? Masihkah juga kenangan tentang kita tersimpan dalam sudut hatimu? Malam ini, aku seperti menemukan kotak pandora yang telah lama berdebu. Perlahan ku sapu debunya dengan telapak tangan dan mencoba mencongkel gemboknya yang telah berkarat. Kau tahu, di dalamnya berisi tumpukan file jejak langkah yang pernah kita torehkan berdua.

Di tumpukan paling atas adalah kenangan ketika kita duduk berdua di atas sebongkah batu, memandang ombak yang riang berkejaran di bawah cahaya jingga yang dipersembahkan matahari pada langit senja. Lalu, aku tertawa lepas melihat sekelompok anak-anak yang berlomba melompat dari bebatuan tinggi ke dalam hamparan air laut biru di bawah sana, sementara kau hanya tersenyum sambil menatapku dan diam seribu bahasa.

Sebelum beranjak untuk pulang, kau menahan tanganku. “aku ingin kita masing-masing saja” ucapmu kala itu. Kau tahu, aku seperti mendengar dentuman petir tanpa mendung yang menjadi pertanda.

Ada apa? Apa salahku? Hanya dua pertanyaan itu yang mampu ku ucapkan. Setahuku, selama itu, kita bahkan hampir tak pernah bertengkar. Saat itu, aku tak ingin percaya pada pendengaranku sendiri saat kau katakan tak lagi cinta. Ya..,, hubungan yang telah kita jaga bersama hanya selesai karena tak lagi cinta.

Bohong jika ku katakan aku baik-baik saja. Tetapi, aku berusaha semampuku untuk tak memperlihatkan air mata. Satu hal yang telah kusimpan lama dan ingin ku tanyakan padamu. “Apa yang kau rasakan ketika kau ucapkan kata-kata itu?”

Waktu berlalu, perlahan tapi pasti aku telah memaafkanmu dan juga memaafkan diriku sendiri. Jika di awal-awal kepergianmu, aku sibuk menyalahkan diriku sendiri, tetapi kemudian, seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa kau memang bukan yang terbaik untukku.
Saat itu, aku sempat menulis puisi untukmu, dan kini ku ingin kau membcanya.

Perlahan, airmata ini mulai mengering...
Ketika ku sadari, ternyata bersama mu mengeringkan hati dari pesona Ilahi
Bagaimana mungkin aku meratap atas kepergianmu, namun tersenyum bahagia bersamamu saat hidayah-Nya mulai meninggalkanku.
Senja itu, sejatinya adalah cara sang pemilik cinta yang ingin cintaku utuh hanya untuk-Nya.
Ku mohon padamu, kembalikan hatiku hanya untuk Allah saja...

Banda Aceh, feb 2007

Kini...,, ku ingin kau tahu, aku sangat bahagia. Allah telah menganugerahkan seseorang yang luar biasa untukku. Melalui tulisan ini pula, aku ingin mengucapkan terimakasih karena telah meninggalkanku. Karenanya aku belajar bahwa hidup tak selalu diisi oleh tawa, ternyata ada air mata yang setelahnya menghadirkan bahagia tiada tara.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline