Lihat ke Halaman Asli

Achmad Faizal

Pengajar di MA Unggulan Nuris dan Ma'had Aly Nurul Islam Jember

Pragmatisme, dari Mie Instan hingga Ustazah Nani Handayani

Diperbarui: 9 Desember 2017   09:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber foto: tribunnews.com

"Salah satu dampak modernisasi bahwa pemujaan terhadap hasil dan mengabaikan proses adalah ciri budaya pragmatis"

Beberapa hari lalu sempat heboh pemberitaan tentang "kekhilafan" Ustazah Nani Handayani dalam acara Syiar Kemuliaan yang ditayangkan oleh Metro Tv. Semula, fatalnya kesalahan penulisan penggalan Alquran Surat Al Ankabut ayat 45 dan Al Ahzab ayat 21 tersebut yang dipermasalahkan netizen. 

Namun, ternyata berlanjut pada hal krusial terhadap kedalaman penjelasan dan penguasaan topik juga menjadi kecorobohan ustazah yang konon kemudian dikenal sebagai salah satu srikandi terbaik PKS (Partai Keadilan Sejahtera) ini.  

Untuk memastikan kehebohan pemberitaan tersebut saya berusaha bersemedi dengan embah Google.Ternyata untuk sekadar profil detail penceramah anyarini cukup sulit. Hanya pemberitaan, tanggapan berbagai media, tokoh tentang kekeliruannya yang bertebaran di internet. 

Indikasi kiprah kedaiannya yang rendah secara nasional, atau premature-nya Nani Handayani terjun di dunia penceramah tanpa rekam-jejak layak, atau bahkan memang pengetahuan saya tentang sosok ini yang dangkal. Entahlah...

Selanjutnya, ketika saya googlinglagi, video ceramah Syiar Kemuliaanyang saya dapatkan terpampang publishpada hari Selasa, 05 Desember 2017. Yang kemudian ramai diperbincangkan setelah postingan akun Twitter atas nama @Rumadi04. Tampak jelas, papan digital bertuliskan kutipan ayat Alquran tersebut salah penulisan. Asumsi siapa yang bertanggung jawab atas kefatalan ini, pihak penyiar kah, atau human eror dalam tim kreatif stasiun televisi kah, mungkin pula total kepada Ustazah Nani Handayani ini?

Bukan masalah mencari kambing hitam atas kesalahan ini. Cuma tidak habis pikir atas apa yang telah dilakukan Ustazah Nani Handayani terkesan keteledoran yang masif. Soal manusiawi tidak sesederhana itu memandang suatu kesilapan. Ini tayangan televisi nasional yang akan memotivasi, menginspirasi, atau bahkan menyugesti umat muslim. Kekeliruan ini sangat miris di saat kondisi masyarakat kekinian yang terkadang mudah nyinyir,haus figur kharismatik dan cerdas melampauai zaman, dan Islam sebagai trending topik dunia.

Menjadi bahan tertawaan dan seolah Indonesia kekurangan stok penceramah mumpuni. Seiring dengan merebaknya pendai/penceramah dadakan, sebutan ustaz atau ustazah "karbitan", ulama google dan sebagainya, ini sangat mengkhawatirkan bagi bangsa. Seolah sebutan ustaz/ustazah atau ulama kini terkesan peyoratif dan generatif. Padahal predikat itu sangat mulia sesuai dengan makna dari kata dasarnya dari bahasa Arab yakni, guru atau seseorang yang memiliki kapabilitas keilmuan tertentu, khususnya pengetahuan agama.

Sebelum problematika kasus Nani Handayani ini, tentu jika kita kilas balik bisa mengingat kasus yang menimpa artis yang tiba-tiba ngustad dan sembrono sebab menggiring opini keras karena menyatakan suatu hal di luar kapasitasnya, lihat madinaonline.comdan acara Beritas Islami di Trans Tv (pubilkasi 1 dan 3 September 2015). Terlebih, ini cukup mengundang tawa sumpit, sebab sempat dibandingkan dengan Ahli Tafsir seperti Prof. Quraish Shihab soal kafir-mengafirkan pula. Memperihatinkan.

Tentu momen ini perlu perhatian khalayak dengan kesadaran dan tanggung jawab untuk meluruskan. Tidak bisa berdiam saja, atau hanya sekadar menyalahkan dan menuding kepentingan politik tertentu serta memperkeruh suasana bangsa yang lagi "sakit komplikasi" ini. Ulama yang telah lama bergelut dengan keilmuan dari sumber klasik yang sahih, bertahun-tahun berguru saatnya turun gunung. Saatnya mereka memperluas jaringan dakwahnya melalui media. Demi keselamatan dan kebaikan umat Islam tentunya.

Kembali ke kasus Nani Handayani, atas kesalahan fatal penulisan ayat Alquran yang blunder. Menurut KH Agus Ali Masyhuri, Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo tersebut. "Mengapa mereka yang tidak kompeten ternyata mendapatkan tempat di media, termasuk di media sosial? Karena mereka lebih progresif dan bergerak maju," (lihat NU online, 06 Des 2017)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline