Toxic Positivity Yang membahayakan
"Sabar ya, semua akan indah pada waktunya", rasanya ingin marah dengan teman atau saudara yang bicara seperti itu kepadaku, aku berhak marah dan sedih dengan masalah yang aku hadapi, aku hanya butuh didengar marah dan sedihku,jangan berbicara apapun selagi aku sedang curhat kehidupan rumah tangga aku yang kacau ini, asli hanya satu yang aku ingat kata-kata mamaku yang kupikir toxic positivity menjadi bahan renungan aku saat sedang mengalami masalah rumah tangga,"Jika kamu kuat kamu lanjutan,jika tidak kuat dihadapi lepaskan". Saat sedang kalut aku tak butuh kata-kata semangat, walaupun menangis dan teriak hanya meluapkan perasaan yang sementara saja dan tidak menyelesaikan masalah, minimal ada sedikit lega untuk meluapkan emosi yang ada di dalam hati.
Kalau direnungi memang manusia akan kaget dan syok jika baru pertama kali menghadapi masalah, karena belum sampai ilmu/ pengalaman menghadapi masalah, karena itu dalam menghadapi teman atau keluarga yang mengalami masalah, sebaiknya kita diam dulu sambil memperhatikan dari jauh perilakunya, untuk antisipasi jika yang bermasalah melakukan tindakan yang membahayakan dirinya dan orang lain, beri minuman yang mereka suka, dengarkan curahan isi hatinya jika dia mau bicara dengan kita,jangan paksa mereka untuk curhat kepada kita. Toxic positivity sangat tidak mengenakkan, ingatlah jangan bereaksi berlebihan jika ada manusia disekitar kita yang sedang ada masalah, nasehat-nasihat yang kita ucapakan sekilas baik, tapi itu bukan waktu yang tepat dan tidak berguna, malah sebaliknya orang yang bermasalah akan marah dan tidak terima dengan nasihat kita.Jadi Stop melakukan toxic positivity, untuk kesehatan mental orang-orang disekitar kita yang sedang ada masalah.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H