Lihat ke Halaman Asli

Audit Syariah di Indonesia Lebih Berpotensi Dibanding Bangladesh

Diperbarui: 9 November 2015   11:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Mengenal istilah auditor artinya berbicara mengenai aktivitas penilaian terhadap laporan keuangan oleh pihak independen sebagai pengesahan bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh pihak manajemen telah disajikan secara wajar atau tidak. Dalam perspektif Islam, auditor tidak hanya dituntut untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada stakeholder tetapi yang terpenting adalah tanggungjawabnya kepada Allah SWT sebagai pemberi amanah tersebut. Hal ini berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Muhammad Showkat Imran, dkk dalam IIUC STUDIES Vol. 9, Desember 2012.

Karakteristik auditor syariah yang dipaparkan dalam jurnal tersebut adalah Righteousness (adil), Trustworthiness (dapat dipercaya), Professional Behaviour (bersikap profesional), Fairness (jujur), Proficiency and Efficiency (ihsan), Sincerity (ikhlas), Passion for Excellence (ahli), Professional Competence (berkompeten), Honesty (kelurusan hati), dan Confidentiality (menjaga kerahasiaan).

Setelah dilakukan survey terhadap Senior Eksekutif Departemen Akuntansi dari Bank Islam di Bangladesh yang terpilih sebagai responden, serta auditor eksternal dari bank-bank tersebut, didapatkan permasalahan terkait pelaksanaan audit syariah di Bangladesh yaitu :

Pihak manajemen dari bank yang terpilih berpendapat bahwa auditor seharusnya menjalankan aturan dan regulasi yang dibuat oleh Sharia Council (dewan syariah) karena mereka tidak memahaminya dengan baik.

Pihak yang berwewenang di bank tidak setuju bahwa auditor eksternal lebih independen dibanding pihak manajemen dan Sharia Council.

Pihak manajemen tidak sepenuh hati untuk membantu pekerjaan auditor seperti menyediakan buku pencatatan akuntansi dan berbagai informasi yang diinginkan auditor.

Sampai saat ini, standarisasi Sharia Compliance (kepatuhan syariah) dan regulasi keuangan Islam belum dilakukan di Bangladesh.

Seluruh karyawan dari bank yang menjadi responden belum memiliki pengetahuan yang cukup terhadap Sharia Council terutama pada departemen akuntansi bank tersebut.

Dapat dilaporkan bahwa sistem dan prosedur akuntansi tidak seperuhnya sesuai dengan prinsip syariah. Ini dikarenakan kurangnya pengetahuan bagian akuntansi tentang itu.

Lalu, responden juga menuliskan langkah yang mereka anggap mungkin untuk menyelesaikan permasalahan di atas di dalam kuisioner yang diberikan, yaitu :

Melakukan impelementasi sistem dan prosedur akuntansi yang sesuai dengan syariat Islam. Dengan syariah yang mendasari sistem akuntansi, menggunakan cash basis serta akrual basis akan menjadi mungkin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline