Lihat ke Halaman Asli

Said Mustafa Husin

Freelance, pemerhati kebijakan dan wacana sosial, penulis profil tokoh dan daerah, environmental activists.

Dilema Suku Terasing di Bukit Tiga Puluh dan Penggarap Lahan di Teso Nilo

Diperbarui: 9 Desember 2022   06:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suku Talang Mamak di sepanjang aliran sungai Batang Gangsal (foto liputan6)

Duduk di atas rumput beralaskan tikar, Fifin Arfiana Jogasara, Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) memaparkan di depan wartawan berbagai permasalahan dan program untuk pelestarian alam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Malam itu, udara di halaman Camp Granit, di kawasan TNBT, Resort Talang Lakat, terasa sangat dingin menusuk kulit. Ini tak lain disebabkan tempat acara berlangsung berada di ketinggian 437 mdpl. Meski begitu, sampai akhir acara tidak seorangpun wartawan yang beranjak

Di depan puluhan wartawan PWI Riau yang juga ikut meriung atau duduk berkumpul di atas rumput beralaskan tikar, Fifin tidak saja bicara tentang pelestarian alam dan restorasi ekosistem tapi juga tentang program pembinaan komunitas suku terasing

Di lansekap Bukit Tiga Puluh yang terbentang di wilayah Provinsi Riau dan Provinsi Jambi memang ada dua komunitas suku terasing yakni Suku Kubu atau Suku Anak Dalam dan Suku Talang Mamak. Dua komunitas ini sudah mendiami kawasan Bukit Tiga Puluh sejak ratusan tahun lalu

Suku Anak Dalam mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di wilayah Provinsi Jambi. Suku terasing di Jambi ini termasuk komunitas nomaden yang selalu berpindah-pindah

Fifin menyebutkan ini salah satu program yang diusung Balai TNBT. Suku Anak Dalam akan diberikan pembinaan agar bisa meninggalkan prilaku nomaden. Pasalnya prilaku nomaden berdampak pada program pelestarian alam TNBT

“ Suku Anak Dalam setiap kali berpindah akan membuka lahan baru. Sekalipun tidak terlalu luas tapi tetap berdampak pada program pelestarian alam Taman Nasional Bukit Tiga Puluh,” papar Fifin

Perpindahan Suku Anak Dalam memang tidak setiap tahun. Biasanya mereka berpindah lantaran anggota keluarga meninggal dunia, hasil hutan di lokasi tempat tinggal mulai habis, musim buah di tempat lain serta ancaman dari luar.

“ Kalau lagi musim buah di sini, kadang-kadang Suku Anak Dalam juga berbondong-bondong sampai ke wilayah Riau,” kata Fifin

Komunitas suku terasing yang mendiami kawasan TNBT di wilayah Riau yaitu Suku Talang Mamak. Seiring perkembangan peradaban, komunitas Talang Mamak kini terpecah menjadi Suku Talang Mamak dan Melayu Tua.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline