Lihat ke Halaman Asli

ERRY YULIA SIAHAAN

Penulis, guru, penikmat musik dan sastra

Berkaca pada Chiko dan Clarissa

Diperbarui: 19 April 2023   16:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berkaca. (Foto: Dreamstime)

Chiko dan Clarissa mengisi daftar nama istimewa di buku saya. Daftar yang sebenarnya tidak panjang. Tepatnya, belum panjang. Saya katakan “belum”, karena saya berharap, daftar itu selekasnya menjadi panjang dan terus bertambah panjang.

Saya ingin bertemu dengan lebih banyak nama istimewa dalam hidup saya, untuk kemudian menuliskannya dalam sebuah bundel, tempat saya, Anda, dan banyak lainnya bisa berkaca.

Nama-nama itu tidak harus bergelar panjang. Tidak mesti dari mereka yang bermahkota, pun menahtai kursi penuh kuasa. Yang dibutuhkan oleh bundel saya adalah nama-nama sebagai tempat menera tentang siapa saya, di mana dan bagaimana saya, serta akan ke mana saya.

Chiko dan Clarissa merupakan contohnya. Mereka sangat spesial buat saya, bukan karena mereka terkenal. Mereka bukan kriminal, bukan supernakal, bukan raja bual, bukan pelaku skandal, atau predikat semacamnya yang mudah menggaet atensi lalu diingat.

Mereka hanyalah anak-anak biasa, dari keluarga sederhana, yang menyita perhatian saya Sabtu (15 April 2023) lalu di gereja. Chika genap berusia empat tahun pada 16 April, Chiko masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) Kelas A.

Setiap minggu, mereka diboyong oleh ibu dengan motor. Satu motor berempat. Ibu mereka menggendong adik mereka yang masih bayi, lalu bruumm.... bruumm menuju gereja sekitar 8 kilometer jauhnya.

Clarissa, Chiko, dan Nyonya Sidauruk boru Manurung beserta bayi. (Foto: Erry Yulia Siahaan/Dokumentasi pribadi)

Mengapa istimewa? Ijinkan saya bercerita.

Sabtu, pada perayaan Paskah Sekolah Minggu di HKBP Cibinong Ressort Cibinong, kakak-beradik ini tampil memukau. Di depan ratusan anak dan jemaat, mereka dengan lancar mengucapkan "Doa Bapa Kami" dan "Pengakuan Iman Rasuli" - dua tuturan lumayan panjang yang lazim diucapkan pada saat seseorang meneguhkan iman Kristiani.

Tepuk-tangan bergemuruh menyambut kebolehan mereka, seakan tidak percaya bahwa kata-kata itu dinyatakan oleh tubuh-tubuh mungil yang belum melek aksara itu. 

“Mari kita dengarkan, mereka akan mengucapkan ‘Doa Bapa Kami’ dan ‘Pengakuan Iman Rasuli’,” kata seorang GSM. Dia menceritakan, belum lama ini Chiko dan Clarissa menghampirinya, mencoleknya, dan berkata, “Kakak, saya sudah bisa ‘Doa Bapa Kami’. Saya juga bisa ‘Pengakuan Iman Rasuli’.”

Itu membuat GSM itu kaget. Dia lalu menguji kedua anak tersebut. Ternyata, benar. Dia lalu mencarikan momen untuk menampilkannya. Perayaan Paskah dinilai event yang tepat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline