Lihat ke Halaman Asli

Erick M Sila

Pendidik

Pentingnya Pendidikan STEM Menurut Ki Hadjar Dewantara

Diperbarui: 27 Juli 2024   09:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://kihajar.kemdikbud.go.id/p/


1. Pendahuluan

Di era globalisasi yang semakin berkembang pesat, pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk generasi mendatang yang kompeten dan siap menghadapi tantangan zaman. Salah satu pendekatan yang kini semakin mendapat perhatian adalah pendidikan STEM, yang merupakan singkatan dari Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Pendidikan STEM tidak hanya fokus pada penguasaan materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan problem solving, yang sangat dibutuhkan dalam era digital ini.

KI Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan nasional yang dikenal dengan sebutan K.H. Dewantara, telah lama menekankan pentingnya pendidikan yang komprehensif dan kontekstual. Filosofi pendidikan yang beliau kembangkan sangat relevan dengan konsep pendidikan STEM yang mementingkan keterkaitan antara teori dan praktik. Oleh karena itu, memahami pandangan beliau terhadap pendidikan, khususnya dalam konteks STEM, menjadi sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan modern.

Artikel ini akan membahas tentang pentingnya pendidikan STEM dalam perspektif K.H. Dewantara. Pembahasan ini diawali dengan pemberian biografi singkat mengenai K.H. Dewantara untuk memberikan latar belakang yang memadai mengenai tokoh ini. Selanjutnya, akan dijelaskan konsep pendidikan yang beliau anut, dan bagaimana filosofi tersebut dapat diimplementasikan dalam pendidikan STEM. Selain itu, artikel ini juga akan melihat lebih dalam tentang definisi dan manfaat pendidikan STEM, serta pentingnya integrasi prinsip-prinsip K.H. Dewantara dalam pendidikan tersebut.

Dengan memahami dan mengimplementasikan konsep pendidikan yang diusung oleh K.H. Dewantara, diharapkan sistem pendidikan kita dapat lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan zaman. Pendidikan STEM yang diintegrasikan dengan nilai-nilai dan pendekatan yang diajarkan oleh K.H. Dewantara akan mampu mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global.

2. Biografi Singkat K.H. Dewantara

K.H. Dewantara, yang lebih dikenal dengan sebutan KI Hadjar Dewantara, adalah tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Nama asli beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta. Beliau berasal dari keluarga bangsawan yang menjadikannya mendapatkan pendidikan yang baik sejak kecil. Kewibawaan dan kecerdasan yang dimilikinya membuat beliau tumbuh sebagai seorang pemikir dan visioner dalam bidang pendidikan.

Sejak muda, K.H. Dewantara telah menunjukkan kegigihannya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia yang pada saat itu berada di bawah penjajahan Belanda. Perjuangannya tidak lepas dari dunia penulisan dan jurnalisme. Pada tahun 1908, beliau aktif dalam organisasi Budi Utomo, kemudian mendirikan Indische Partij bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Dr. Douwes Dekker. Indische Partij dikenal sebagai partai politik pertama yang bersifat nasional di Indonesia.

Namun, keterlibatannya dalam gerakan nasionalisme membuatnya diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Selama pengasingannya, beliau tetap melanjutkan pendidikannya di bidang pendidikan dan budaya, serta terus memikirkan masa depan bangsa Indonesia. Sepulangnya ke Indonesia pada tahun 1919, pemikiran K.H. Dewantara akan pentingnya pendidikan semakin mantap.

Pada 3 Juli 1922, beliau mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang berlandaskan pada konsep pendidikan nasional yang inklusif dan progresif. Taman Siswa tidak hanya berfokus pada aspek akademik, namun juga pada pengembangan karakter, keterampilan, dan patriotisme. K.H. Dewantara percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai kemerdekaan bangsa dan pembentukan manusia yang berakal budi.

2.1. Latar Belakang

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline