Lihat ke Halaman Asli

Endro S Efendi

TERVERIFIKASI

Penulis, Trainer Teknologi Pikiran

Kenapa Pendukung Radikal Tak Mau Dianggap Kalah?

Diperbarui: 26 April 2019   07:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: @nurhadialdo_bali10

Sepanjang pesta demokrasi yang sedang berlangsung hingga keputusan final nanti, hal yang tidak ringan untuk dijalani adalah menahan diri. Menahan diri untuk tidak meluapkan perasaan apa pun itu. Baik perasaan menang maupun tidak menang.

Adalah lumrah, di dalam setiap diri manusia ada bagian diri yang selalu ingin menang, tak rela kalau sampai tidak memenangi kompetisi. Nah, selama proses demokrasi itu, bagian diri inilah yang sangat aktif dan menguasai diri setiap individu.

Apalagi bagi mereka yang terlibat langsung, secara otomatis, mereka yang terlibat, bagian diri yang selalu ingin menang langsung mode on. Baik itu sebagai tim pemenangan, tim sukses, atau istilahnya pendukung garis keras.

Ada yang menyebut pendukung garis keras ini sebagai cebong atau kampret. Entah kenapa kedua makhluk ini seketika sangat terkenal. Semoga saja kedua makhluk ini tidak sampai dendam dengan manusia. Kebayang kan kalau kemudian di keluarga cebong atau kampret, mereka melakukan perundungan kepada sesama mereka dengan sebutan, "dasar manusia".

Saya pribadi, sejak tahun lalu ketika kedua pasangan ini belum ditetapkan bersaing dalam Pilpres, selalu menahan diri untuk tidak ambil bagian dalam posting soal demokrasi ini. Terakhir saya hanya menuliskan bagaimana kedua pasangan memakai strategi pikiran bawah sadar untuk merebut suara. Hanya itu.

Saat menulis artikel itu pun, saya benar-benar berusaha bagaimana agar seimbang. Bahkan jumlah baris setiap pasangan saya hitung. Jangan sampai ada yang lebih banyak. Ulasan itu pun saya baca ulang beberapa kali, untuk memastikan benar-benar tidak berat sebelah. Beberapa sahabat yang saya tahu pendukung masing-masing pasangan, juga saya minta baca dengan pikiran jernih. Nyatanya sudah cukup aman. Alhamdulillah, artikel itu tidak memantik persoalan.

Saat pemungutan suara selesai, saya pun tetap menahan diri. Jujur, memang ada bagian diri yang berontak. Ingin meluapkan emosinya terhadap proses yang sedang terjadi. Namun bagian diri ini segera saya berikan pemahaman. Saya ajak bagian diri ini untuk bernegosiasi. Sebab nyatanya, tak semua emosi atau perasaan patut diluapkan di beranda belantara maya, dan dibaca ribuan orang.

Setiap kata dan kalimat mengandung energi. Energi itu bisa positif, bisa juga tidak positif. Maka, saat seseorang meluapkan emosi dan perasaan di media sosial, maka dia sedang menyebarkan energi pada orang lain, sesuai muatannya. Persoalannya, energi yang sudah keluar tidak bisa dimusnahkan begitu saja.

Sesuai hukum kekekalan energi, energi akan terus berputar, meski boleh jadi wujudnya berbeda. Namun, muatan energinya akan tetap sesuai dengan ketika energi itu dilepaskan. Saat ada yang menghujat, melakukan perundungan pada orang lain, atau mem-bully, maka sejatinya energi itu akan kembali pada diri sendiri.

Atas dasar itulah, saya enggan menyebarkan energi yang kurang positif pada orang lain melalui media sosial. Saya tahu, teman dan sahabat saya tidak semua satu pilihan. Setiap orang memiliki jutaan bahkan miliaran alasan untuk memilih pasangan yang disukai. Pun, setiap individu juga memiliki miliaran alasan untuk tidak memilih pasangan tertentu. Maka itulah yang harus dihargai.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline