Lihat ke Halaman Asli

Encep Nurdin S.Pd

Guru Biologi di SMAN 1 PARONGPONG

Budaya Victim Blaming dan Stigma dalam Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah

Diperbarui: 18 Agustus 2024   09:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar Ilustrasi. Sumber Foto : https://jogjapolitan.harianjogja.com/

Assalamualaikum. Wr.Wb. Perkenalkan  nama saya Encep Nurdin S.Pd, saya seornag guru Biologi di SMAN 1 PARONGPONG Kabupaten Bandung Barat. Pada kesempatan kali ini saya akan mengupas tuntas tentang kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, kekerasan seksual ini harus dapat diatasi dan didukung pencegahan nya oleh semua pihak mulai dari Kepala sekolah, guru, Peserta didik, tokoh masyarakat dan orang tua peserta didik. Artikel ini berjudul "Budaya Victim Blaming dan Stigma dalam Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah".

Kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, sayangnya, bukanlah fenomena baru. Namun, yang kerap kali memperparah dampak traumatis bagi korban adalah budaya victim blaming dan stigma yang mengakar kuat. Artikel ini bertujuan untuk mengupas fenomena ini, serta mengajak dosen, guru, peserta didik, dan orang tua untuk bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung bagi semua.

Apa itu Victim Blaming?

Victim blaming adalah kecenderungan untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang dialaminya. Dalam konteks kekerasan seksual, korban seringkali dipertanyakan tentang pakaiannya, perilakunya, atau bahkan keputusannya untuk berada di tempat dan waktu tertentu. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang sangat merugikan korban, karena mengalihkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban.

Stigma dan Dampaknya

Stigma yang melekat pada korban kekerasan seksual juga menjadi penghalang besar bagi mereka untuk mencari bantuan dan keadilan. Korban seringkali merasa malu, takut dikucilkan, atau bahkan disalahkan oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat menyebabkan dampak psikologis yang mendalam, seperti depresi, kecemasan, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri.

Peran Guru

Guru memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari victim blaming dan stigma. Mereka harus:

  • Mendidik tentang kekerasan seksual: Memberikan pemahaman yang jelas tentang apa itu kekerasan seksual, bentuk-bentuknya, dan dampaknya.
  • Menciptakan ruang aman: Memastikan siswa merasa nyaman untuk berbicara terbuka tentang pengalaman mereka tanpa takut dihakimi.
  • Menanggapi laporan dengan serius: Setiap laporan kekerasan seksual harus ditangani dengan serius dan profesional, dengan melibatkan pihak-pihak yang berwenang.
  • Menghindari victim blaming: Tidak pernah mempertanyakan atau menyalahkan korban atas kekerasan yang dialaminya.
  • Menjadi teladan: Menunjukkan sikap yang mendukung dan empatik terhadap korban, serta menolak segala bentuk victim blaming dan stigma.

Peran Peserta Didik

Peserta didik juga memiliki peran penting dalam memerangi victim blaming dan stigma. Mereka harus:

  • Saling mendukung: Menciptakan budaya solidaritas di antara teman sebaya, di mana korban merasa didukung dan tidak sendirian.
  • Menolak victim blaming: Tidak ikut-ikutan menyalahkan atau menghakimi korban, serta berani melawan teman yang melakukannya.
  • Mencari bantuan: Jika mengalami atau mengetahui adanya kekerasan seksual, segera mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya.
  • Menjadi agen perubahan: Berpartisipasi aktif dalam kampanye atau kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang kekerasan seksual dan memerangi victim blaming dan stigma.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline