Lihat ke Halaman Asli

Sakit, Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Polemik di Sekitarnya

Diperbarui: 24 Juni 2015   04:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Menonton acara Bang Karni Ilyas di Indonesia Lawyer Club (ILC) selasa malam, yang membahas kasus dugaan Malpraktek di Manado, menjadi inspirasi penulis membuat tulisan ini.

Penulis tidak akan membahas mengenai kasus Malpraktek di Manado itu, karena itu bukan kompetensi penulis.

Kalau kita sakit atau keluarga kita sakit biasanya langkah-langkah yang kita lakukan bertahap, kalau sakit ringan seperti flu-demam, sakit tenggorokan-batuk, diare, sakit gigi dan lain-lain umumnya kita akan melakukan "self-medication" dengan membeli obat di Apotek terdekat , yakni obat yang cocok buat kita karena pernah menggunakan sebelumnya atau tahu dari iklan, saudara dan teman.

Apabila setelah beberapa hari minum obat yang di beli  tidak sembuh juga -karena obat dan penyakitnya tidak "matching"- biasanya kita akan pergi ke dokter (dokter umum atau spesialis), baik yang praktek sendiri atau di poli  rumah sakit terdekat. Tentunya kita akan di beri resep untuk di tebus di apotek langganan, tapi adakalanya dokter praktek di klinik sendiri yang  "nakal" melakukan "dispensing", artinya sang dokter mendiagnosa penyakit lalu memberikan obat langsung, sesuai dengan stok obat yang ada di "gudang" obat sang dokter. Tentu saja hal  ini menyalahi peraturan, karena selama di sekitar lokasi praktek dokter itu ada apotek, maka dokter tidak boleh "dispensing".  Biasanya kalau pasiennya bersikap kritis, selalu minta resep untuk di tebus di apotek terdekat, karena dia tahu bahwa jenis obat yang ada di "gudang" dokter dispensing PASTI tidak lengkap, sehingga  kadang2 obat yang ada di paksakan untuk kebutuhan si pasien.

Kalau sakit sudah berat, tentu dokter akan merekomendasikan untuk di rawat inap (opname) di rumah sakit, supaya lebih baik observasi-nya serta lebih lengkap penunjang diagnosa dengan ketersediaan laboratorium dan penunjang lain. Begitu anda sudah di rawat di rumah sakit, maka  semuanya sudah "out of control" anda, anda tinggal menyediakan uang yang cukup untuk semua kebutuhan anda di rumah sakit, mulai dari sewa kamar, menebus obat yang jenisnya macam-macam, yang bahkan anda tidak tahu kapan habisnya tahu-tahu sudah di suruh beli lagi, itu karena obat yang di beli di pegang oleh perawat ruangan, belum lagi berbagai macam tes penunjang yang di butuhkan seperti pemeriksaan laboratorium (ini hampir selalu di butuhkan, kadang-kadang laboratorium rumah sakit tidak melakukannya maka terpaksa sampel di kirim ke lab swasta yang harga tesnya sudah pasti mahal) dan pemeriksaan-pemeriksaan lain seperti misalnya rontgen, CT Scan dan lain-lain yang biayanya tidak murah.

Pengalaman teman penulis baru baru ini, dia di rawat di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Pusat, setelah di lakukan skrining awal laboratorium  menunjukkan karena kadar enzim SGOT dan SGPT jauh diatas normal, lalu di lanjutkan dengan pemeriksaan HBsAg, yang kualitatif positif dan kuantitatif-nya jauh di atas COV (Cut Off Value).  Dengan hasil laboratorium seperti ini mestinya diagnosa sudah dapat di tegakkan dan pengobatan mestinya sudah bisa di lakukan, tetapi rupanya dokter internis belum puas dengan tes-tes itu, dan belum mau memberikan obat, dia masih meminta tes-tes lain HBeAg, HBcAg serta HB DNA Ag dan Ab, luar biasa....seperti dia lagi penelitian....repotnya tes-tes terakhir ini harus di rujuk ke lab swasta terkenal, karena lab rumah sakit tidak mengerjakannya di sebabkan itu termasuk pemeriksaan yang jarang dan sangat mahal, Belum lagi pemeriksaan di minta pada hari jum'at sore sementara hari sabtu dan minggu lab swastanya tidak menerima pemeriksaan rujukan.

Akhirnya setelah diskusi dengan berbagai teman teman medis, hari sabtu paginya sang teman pulang dari rumah sakit, karena kondisinya bisa tidak bed rest dan melanjutkan pengobatan rawat jalan, jadi selama seminggu opname di  rumah sakit, si teman hanya mendapatkan Infus dan antibiotika injeksi, padahal jelas dia tidak menderita infeksi bakteri apapun.

Demikian salah contoh pengalaman teman di rawat inap, mungkin banyak pengalaman-pengalaman pasien pasien lain yang mencerminkan repotnya kalau sudah di opname.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline