Lihat ke Halaman Asli

Elsa Mutiara

Mahasiswa

Psikosomatis, Merasa Sakit Padahal Hanya Pengaruh Pikiran

Diperbarui: 17 Juli 2020   19:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Sakit Kepala (sumber: Pixabay)

Sebelum berlanjut lebih jauh tentang Psikosomatis, mari kita kenal dahulu sedikit arti dari Psikosomatis itu sendiri. Menurut Atkinson 1999, istilah psikosomatis berasal dari bahasa Yunani yaitu psyche yang berarti jiwa dan soma berarti badan. 

Secara sederhana, kita sudah dapat menarik benang merah bahwa Psikosomatis adalah gangguan yang terjadi pada tubuh yang dipengaruhi oleh pikiran. Tetapi saat melakukan pemeriksaan medis tidak ditemukan gangguan atau penyakit apapun.

Dr. Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Psikologi Abnormal bahwa psikosomatisme adalah bentuk macam -- macam penyakit fisik yang di timbulkan oleh konflik -- konflik psikis atau psikologis dan kecemasan kronis. Dan juga psikosomatis adalah kegagalan sistem syaraf dan sistem fisik yang di sebabkan oleh kecemasan -- kecemasan, konflik -- konflik psikis dan gangguan mental.

Menurut buku yang pernah saya baca berjudul The Miracle of Mindbody Medicine dijelaskan bahwa pengaruh pikiran terhadap tubuh bisa positif maupun negatif. Bila pengaruhnya positif, tubuh kita sehat dan kuat sebaliknya bila pengaruhnya negatif, fungsi tubuh akan terganggu, bahkan kita bisa sakit, dan kondisi ini yang disebut dengan penyakit psikosomatis. 

Kata psikosomatis sendiri sebenarnya netral. Sedangkan kondisi sebaliknya, yaitu tubuh mempengaruhi pikiran, disebut dengan somatopsikis atau somatopsychic. Salah satu contoh somatopsikis adalah terapi pijat atau massage. biasanya setelah di pijat tubuh menjadi rileks pikiran juga ikut rileks dan nyaman.

Lalu apa salah satu contoh nyata psikosomatis? Misalnya yang saya alami sendiri. Setiap kali membaca berita terkait bencana gempa bumi, saya akan merasa pusing, demam dan kepala berputar-putar seperti vertigo padahal keadaan tubuh saya baik-baik saja. 

Pun, anda mungkin pernah merasakan sesak nafas, demam, tenggorokan gatal sesudah membaca berita seputar COVID-19 tetapi suhu dan keadaan tubuh normal itu adalah psikosomatis.

Pasti anda bertanya-tanya, bagaimana psikosomatis bisa timbul? Apa kolerasinya? Ya sesuai definisi psikosomatis, gangguan yang terjadi disebabkan oleh pikiran bukan gangguan yang terjadi pada organ tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal atau lainnya. Dalam hal inilah amygdala mengambil peran. 

Sekelompok jaringan saraf yang terletak di sisi lobus otak berbentuk seperti kacang almond. Amygdala merupakan bagian otak yang berperan dalam mengolah rasa cemas, rasa takut, dan emosi lainnya. Juga merupakan tempat dimana pusat memori otak menyimpan memori tentang segala sesuatu yang pernah terjadi.

Sesuatu apapun yang kita terima akan diolah oleh otak dan kemudian disaring oleh Amygdala. Apabila yang kita terima bertentangan dengan yang kita percaya, amygdala akan menolaknya, tidak akan diproses dan berhenti hanya sampai situ. Sebaliknya, jika sesuatu yang kita terima berhubungan erat dengan kebiasaan atau lingkungan kita, maka akan berlanjut diproses otak dan diterima oleh diri kita. 

Lalu, amygdala akan melepaskan senyawa glutamat yang yang berperan untuk merespon rasa takut dan memicu gerak refleks lainnya. Itulah sebabnya kalau sekarang kita sering membaca berita COVID-19, kita akan merasakan gejalanya padahal keadaan tubuh kita normal.

Keluhan-keluhan psikosomatis yang dirasakan dapat berupa, jantung berdebar-debar, sesak nafas, demam, batuk, pilek, susah tidur, tidak nafsu makan dan lesu. Keluhan-keluhan tersebut bisa terjadi berulang kali dan mengganggu aktivitas sehingga perlu melakukan pemeriksaan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline