Lihat ke Halaman Asli

Eko Irawan

Menulis itu Hidup

Kisah Langit Pagi

Diperbarui: 13 Januari 2021   12:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kisah langit pagi dokpri

Pagi adalah lembar baru. Kadang disambut hujan. Sejak semalam. Syahdu diantara asa. Sendu diantara duka. Tentang kisah langit pagi.

Hidup bukan diratapi. Tapi untuk dijalani. Susuri waktu. Walau lelah. Tanpa daya. Tapi teruslah berjuang.

Luka ini terlalu parah. Berdarah darah. Habis sudah semua kata. Habis sudah tetes air mata. Hanya pahit yang tersisa. Tertatih dalam duka.

Bertahan yang sakit. Ingin sudahi saja. Bara selisih yang tak kunjung padam. Menghias kelam. Semakin pekat. Tak tahu arah. 

Berharap semilir angin pagi. Menghapus duka ini. Agar terobati. Untuk kembali melangkah. Walau payah. Tapi nasib harus terasah.

Lelah ini sudah parah. Hanya doa yang kupunya. Kisah tiada ujung. Dibahaspun hanya pelampiasan. Tanpa solusi. Mengejar menang yang tak berarti. Kalah yang tak dihargai. 

Masih ada kisah langit pagi. Lukisan awan mewarna bumi. Biru. Tak perlu haru. Jalani saja. Dengan tekad. Ikhlas dan berserah diri. PadaNya. Sang Penguasa Langit.

Tak mengeluh. Berjalanlah terus, walau Bermandi peluh. Berjuanglah terus, walau raga lusuh. Lalui nasib hina Dina nan kumuh. Pantang mundur, bersama embun membasuh.

Aku tak menyerah. Aku berpasrah. Berjuang tanpa lelah.

Malang, 13 Januari 2021

Oleh Eko Irawan

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline