Kita bertemu. Tapi tak bisa bicara. Hanya saling pandang.
Aku harus sembunyikan perasaanku. Kamu juga. Semakin hari, semakin terpendam. Tenggelam dalam waktu. Tersimpan dalam map map tak terselesaikan. Menumpuk. Tenggelam dalam diam. Terputus. Terbelenggu. Tak terurai. Dan membeku.
Resahmu, resahku juga. Gundahmu juga kurasa. Ini memang gejolak aneh. Diantara kita. Saat tak bisa bicara.
Semakin rapat apa yang kita hadapi. Hati hati menjaga perasaan ini. Semua harus kupahami. Gejolak yang tak bisa dimengerti.
Resah. Berontak. Kenapa harus terjadi. Seperti ini. Dalam tirai tirai besi. Yang membelenggu hati. Tak bisa bergerak lagi. Kecuali hanya diam dalam kepasrahan, terus menanti. Menunggu yang tak pasti.
Ini tentang panah panah api. Yang tertahan. Lama lama terbakar. Dalam kebingungan. Bagaimana ini.
Tak terselesaikan resah ini. Menahan rasa tanpa tujuan lagi. Kemana tak bisa pergi. Tertahan dalam lantunan sepi.
Tentang cinta tanpa tuan. Lagu tanpa lantunan. Nada dalam kesepian. Sunyi dalam keresahan. Puisi resah tanpa penyelesaian.
Malang, 2 Desember 2020
Oleh Eko Irawan
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H