Lihat ke Halaman Asli

W. Efect

Berusaha untuk menjadi penulis profesional

Gadis itu bernama Mirna (5)

Diperbarui: 18 Desember 2022   02:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Papa Mirna adalah seorang pengusaha yang cukup berhasil dibidang property, tidak jarang keluar negeri untuk mencari bahan perbandingan konsep atau arsitektur yang berkembang di sana, kalau ada sesuatu yang baru segera dikembangkan di Indonesia.

Mirna merasa kedua orang tuanya jarang berada dirumah, kegiatannyapun tidak sama waktu selalu bertubrukan bila pengin bersama dengan sekeluarga.  Suatu hari entah disegaja atau tidak, papanya Mirna bersama seorang wanita berada di sebuah hotel, padahal mamanya juga berada di hotel yang sama. Lisa tahu bahwa kamar nomor 5 itu telah dipesan oleh suaminya dan tercatat ada seorang wanita mendampinginya.

Ketika hal itu dipertanyakan hanya dijawab kalau rekan bisnis, namun melihat keakraban mereka, Lisa meragukan jawaban suaminya tersebut.

Mulai saat itu ketegangan diantara mereka mulai mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka dan karena memang jarang berkomunikasi, akhirnya mereka sepakat untuk bercerai.

Mirna merasa terpukul hatinya betapa tidak orang-orang yang mencintainya, orang-orang yang begitu dekat dengannya telah memutuskan untuk berpisah. Itu terjadi sudah tiga tahun yang lalu. Mirna sendiri disuruh memilih ikut siapa, ia lebih memilih mamanya hingga saat ini. Kesibukan yang padat, kurangnya komunikasi telah menyebabkan retaknya hubungan dalam keluarga.

Ketika ada kesempatan aku mencoba menanyakan kepada Lisa, apakah Mirna mengetahui kegiatan apa saja yang telah dilakukannyanya setelah bercerai. Lisa mengatakan kalau kegiatan pokok tetap dilakukan dan tentu ia mengetahui, Mirna sama sekali tidak mengetahui kalau Lisa sering meminum minuman keras ketika bersama teman-temannya. 

"Anakku jarang berpapasan ketika aku pulang, karena Mirna lebih banyak berada di kamar, ia telah tertidur ketika aku pulang". Lisa menatap dengan wajah yang sendu.

Ku hela napas panjang, aku manggut-manggut, aku coba menatap wajah Lisa yang terasa pengin mendengarkan pendapatku tentang kehidupannya. Malam masih mengerayang, namun kehidupan masih saja bergeak dikota metropolitan ini, angin yang bertiup membelai kami berdua, diteras rumah itu, aku mencoba mencari jawab apa yang sebaiknya aku katakana pada Lisa. (bersambung)




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline