Lihat ke Halaman Asli

Eddi Kurnianto

orang kecil dengan mimpi besar.

Kematian untuk Sepak Bola Kami

Diperbarui: 26 September 2018   12:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: pixabay

Jon-Paul Gilhooley kecil tampak sumringah berjalan menuju Leppings Lane Area. Di tampak tangannya selembar tiket Semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest. Pertandingan diadakan di Hillsborough, kandang kesebelasan Sheffield United. Cukup jauh dari Merseyside, tapi toh ada lebih dari 5 ribu supporter datang dari wilayah itu.

Walaupun hanya tiket 'teras, tapi untuk anak berusia 10 tahun itu, tiket itu luar biasa berharga. Baru tadi pagi ibunya, Jackie Gilhooley berhasil mendapatkan tiket itu dengan susah payah. Sang ibu tahu, Jon-Paul adalah fans berat klub sepakbola Liverpool, dan kesempatan menonton klub pujaannya itu berarti lebih dari apapun baginya.

Jam menunjukkan 14.35 waktu setempat, kick off jam 15.00, masih cukup banyak waktu piker Jon-Paul. Sambil tersenyum membayangkan cemburunya sang sepupu, Stephen Gerrard, yang tak berhasil mendapat tiket, Jon-Paul menggandeng tangan Rodney Jolly dan Glen Flatley sambil menuju pintu gerbang yang tampak padat. Keduanya adalah teman teman keluarga yang sudah dewasa. 

Jon-Paul dititipkan pada mereka karena kedua pamannya, Brian dan John, yang juga ikut menonton, mendapatkan tiket di Hillsborough's seated area yang pintu masuknya tidak melalui Leppings Lane Area. Buat Jon-Paul, Rodney Jolly dan kelompok supporter Liverpool itu, pertandingan klub nya adalah "the greatest entertainment on earth", terbukti bahwa yang dating bukan hanya pria dewasa, anak anak seperti Jon-Paul dan bahkan wanita juga berbondong-bondong mendatangi pertandingan klub favoritnya.

Seharusnya sepakbola memang begitu, hiburan untuk semua. 

Kenyataannya, hari itu 15 April 1989, akan dikenal sebagai salah satu sejarah terburuk dalam sepakbola Inggris dan dunia.

Sebenarnya sejak awal sudah terlihat bakal kekacauan. Mulai dari dipusatkannya pintu masuk dari Leppings Lane, padahal ada jalan masuk yang lebih besar menuju Podium utara dan barat yang menjadi lokasi bagi penonton Liverpool fc. Saat Jon-Paul, Rodney dan Glen menuju pintu putar besi, antrian sudah memenuhi Leppings Lane. Ribuan fans Liverpool saling desak berusaha melewati rolling door besi yang akan mengarahkan mereka ke Hillsborough.

Walau jumlah fans Liverpool jauh lebih besar dari fans Notingham Forrest, pintu masuk yang disediakan justru lebih kecil. Dengan hanya 23 rolling door baja. Pendekatan Polisi saat itu adalah keamanan, karena saat itu, sebagian fans Liverpool memang dikenal brutal, hooligans. Sayangnya, pihak keamanan justru lupa memastikan keselamatan para penonton yang hanya ingin melihat "the greatest entertainment on earth".

Karena melihat desakan yang makin brutal, pihak keamanan memutuskan membuka gerbang C yang biasanya digunakan untuk pintu keluar. Rodney dan Glen, serta Jon-Paul, ikut hanyut dengan para fans yang berusaha masuk secepatnya, karena dari dalam sudah terdengar nama nama para pemain disebutkan. Ritual yang berarti para pemain sudah memasuki lapangan hijau. 

Celakanya pintu C tersebut tidak langsung masuk ke arena, tapi menyatu dengan jalan masuk  lewat rolling door baja tersebut. Belum lagi untuk masuk ke stand penonton ada jalan kecil yang dibatasi kawat baja. 

Karena khawatir ketinggalan sebagian besar langsung masuk ke stand yang terdekat, yang sudah terlalu penuh dan akibatnya menutup jalan ke stand lain. Seorang komentator sepakbola BBC, John Motson, sudah melihat bahayanya keadaan itu saat sedang menyiapkan laporannya. Ia bahkan menyampaikan agar kamerawan yang bertugas melihat itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline