Lihat ke Halaman Asli

Tujuan Pengukuran dalam Dunia Pendidikan

Diperbarui: 14 Oktober 2015   10:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pada sebuah penelitian bersifat sains, sebuah pengukuran dapat dilakuakn dengan menggunakan alat ukur. Alat ukur memiliki banyak kriteria mulai dari yang sederhana hingga yang paling kompleks. Untuk mengetahui panjang sebuah meja dibutuhkan alat ukur sederhana yang disebut meteran. Cara penggunaan nya sangat mudah yakni dengan cara membandingkan meteran dengan panjang meja, maka didapatkan sebuah nilai yang mewakili panjang meja.

Persamasalahan dalam pengukuran merupakan sebuah proses membandingkan nilai yang hendak diukur dengan sebuah indikator yang telah dibuat sebelumnya. Pada pengukuran sains, indikator alat ukur dapat dibuat dan dikaliberasi sehingga berlaku dimana saja dan kapan saja. Masalah baru muncul setelah pengukuran ditujukan pada objek yang bersifat dinamis dalam hal ini behavior.

Dalam pengukuran behavioristic dalam hal ini manusia tentu tidak mudah membuat alat ukur seperti meteran kemudian dibandingkan begitu saja, namun dalam proses pengukuran tetap saja prinsip membandingkan dengan indikator yang telah disusun sebelumnya masih berlaku. Namun penyusunan indikator dalam pengukuran sikap manusia tentu saja berbeda dengan pengukuran sains.

Sebuah pengukuran dilakukan berdasarkan tujuan. Sama halnya dengan pengukuran sikap manusia, Penyusunan penrangkat tes bertujuan untuk mengukur segala aktivitas yang berkaitan dengan proses dan hasil belajar peserta didik. Rosana (2014) menyatakan bahwa perangkat tes adalah sebuah instrument yang digunakan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis. Oleh karena hal ini mejadi dasar pengembangan sebuah instrument yang ingin dikembangkan.

Dalam sistem pendidikan di Indonesia, Tujuan belajar dalam hal ini yang berkaitan dengan kurikulum telah dicantumkan secara mendetail tentang standar yang harus dicapai oleh sekolah serta proses pembelajaran. Sebagai contoh kurikulum KTSP menysratkan SK dan KD dalam masing-masing mata pelajaran sebagai standar minimal yang harus dilulusi oleh peserta didik. Hamir serupa dengan KTSP, Kurikulum 2013 juga mensyaratkan standar keterampilan dan pengetahuan yang harus dicapai oleh peserta didik dalam Kompetensi Inti. Dalam upaya mengetahui proses pencapaian ini dibutuhkan alat ukur mengetahui nilai, skor atau persentasi yang dicapai oleh peserta didk terkait dengan tujuan pembelajaran tersebut.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline