Lihat ke Halaman Asli

Paradoks

Diperbarui: 3 Juli 2023   10:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Input sumber gambar: shutterstock.com

Hentikan saja, meruncingnya kisah di rumah kita
Lantaran sudut pandang, cara, dan tafsiran yang beda
Bila kata perdamaian telah menjadi kamus hidup untuk dijalankan
Usahlah berpura-pura, usahlah melebihkan rasa
Berjumawa menusuk batas antara pribadi dan Sang Pencipta
Di kala sama-sama dalam pencarian akan kemanakah kita pada akhirnya

Mengapa berbaku hantam hanya sebatas kulit?

Laksana hendak makan buah pisang
Kupas kulitnya, dapatkan isinya
Makanlah, selesai ...

Masihkah mempersoalkan kulit pisang
Manakala telah dimakan dan dirasakan manis sepatnya?
Apalagi sama-sama telah merasakannya ...

Kulit pisang layak dibuang pada tempatnya
Sebab isi telah didapatkan, dimakan dan dirasakan
Mengapa harus dipungut lagi untuk diperbincangkan tiada henti?

Begitu halnya pada diri yang mempribadi kepada Sang Pencipta
Raihlah prinsip sari patinya, bukan kulitnya
Bila memang perdamaian adalah kamus hidup untuk dijalankan, nyata untuk diwujudkan ...

Dan, kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari para rasul-Nya
Merekapun menjawab, kami memahami dan kami mentaatinya
Apalagi yang hendak diperuncingkan?

Bila hendak makan buah pisang
Yang dituju dan dirasakan
Kulit, ataukah isinya?

*****

Kota Malang, di penghujung Juni, Dua Ribu Dua Puluh Tiga.   

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline