Di negeri ini biasanya setiap ada kejadian banjir, mass media selalu heboh mengabarkan, bahkan sering menyiarkan liputan secara langsung disertai diskusi-diskusi interaktif bertajuk banjir mengundang para pakar, pemerhati sosial, politikus, pejabat, dsb.
Jika banjir lebih dari dua hari, topik pembahasan media akan bergeser dari soal banjir ke arah politik, menjatuhkan petahana atau pemimpin di daerah banjir tersebut. Para politikus, partai berlomba-lomba menunjukkan simpati, empati atau dukungan dengan memberi bantuan bahkan banyak yang langsung diliput dan ditayangkan oleh media elektronik.
Daerah banjir seolah menjadi panggung unjuk kebolehan memberi bantuan, menyampaikan ide, strategi mengelola kota atau suatu daerah.
Awal tahun ini banyak daerah di Indonesia yang terkena banjir, tapi sepertinya tak lagi menjadi isu menarik untuk diberitakan, tak lagi didiskusikan secara langsung atau live. Sepertinya kurang terlihat para calon pemimpin kepala daerah ataucalon anggota legislatif yang turun ke lokasi banjir. Sepertinya semua orang sudah faham bahwa curah hujan yang tinggi sebagai satu-satunya penyebab, dan tak perlu lagi ada pembahasan.
Kenapa banjir tak menarik lagi? Mungkin pengelola media makin faham bahwa rakyat negeri ini makin pintar, makin sulit "dikadalin" dengan kemasan berita bersponsor untuk menaikkan elektabilitas seseorang. Atau karena lebih banyak berita yang lebih pantas diberitakan seperti pagebluk, vaksinasi, gempa bumi, kematian penduduk di rumah sakit atau di penjara, korupsi, penundaan pilkada, tenaga kerja asing, dsb.
Karena soal banjir tak menarik lagi, tulisan ini saya tuntaskan, terima kasih sudah membaca, memberi ratting dan komentar, stay safe saudaraku.