Lihat ke Halaman Asli

Dwian Sastika

Manusia Sebatang Kara

Ketika Aksara Berbicara Lebih Keras Dari Suara

Diperbarui: 24 Juni 2024   15:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto oleh Todoran Bogdan: https://www.pexels.com


Dalam bisikan senyap, aksara terjalin,  
Menyulam makna di balik keheningan,  
Engkau, sang pencari dalam lorong sunyi,  
Menemukan riak di antara baris-baris lengang.

Huruf-huruf menari dalam kesunyian malam,  
Melukis cahaya di kanvas pikiranmu,  
Mereka berbicara dengan nada tanpa suara,  
Menyampaikan rahasia yang terpendam dalam hati.

Setiap titik dan garis membawa pesan,  
Ibarat jiwa yang hidup dalam tinta,  
Engkau mengerti bahasa tanpa bunyi,  
Meresapi getaran yang tak terlihat oleh mata.

Ketika bibir tak mampu berucap,  
Aksara menjadi juru bicara yang setia,  
Mengalir seperti air, meresap seperti embun,  
Menghantar rindu dan cinta yang tersembunyi.

Dalam ketiadaan suara, engkau mendengar,  
Melalui huruf-huruf yang menyala dalam kegelapan,  
Mereka adalah gema dari perasaan terdalam,  
Yang hanya dapat disentuh oleh hati yang peka.

Dan saat malam semakin larut,  
Aksara itu mengajakmu berkelana,  
Menyusuri jejak-jejak kenangan yang terlupa,  
Membangkitkan harapan yang terpendam di balik sunyi.

Dalam hening, engkau temukan jawaban,  
Bahwa suara tidak selalu harus terdengar,  
Karena di balik aksara yang kau rangkai,  
Terdapat kehidupan yang lebih lantang dari kata-kata.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline