Lihat ke Halaman Asli

Dodi Bayu Wijoseno

Belajar, membuat hidup lebih indah

Mengunjungi 5 Kelenteng Bersejarah di Ibu Kota

Diperbarui: 26 Januari 2020   22:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokumentasi pribadi

Kelenteng-Kelenteng bersejarah menjadi salah satu bagian dan kekayaan sejarah kota Jakarta

Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa Jakarta sudah bercorak internasional sejak masih bernama Sunda Kelapa. Berbagai macam orang dari berbagai macam latar belakang, suku, bahasa dan agama bertemu dan berinteraksi di kota Pelabuhan yang penting ini.

Seiring dengan perjalanan waktu,  Gubernur Jenderal VOC  Jan Pieterzoon Coen  mendirikan Batavia pada tahun 1619 dan berkedudukan di sana. Sebagai tempat kedudukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, kota Batavia berkembang dan menjadi pusat untuk segala macam urusan baik untuk urusan politik, ekonomi maupun perdagangan yang tentu saja membuat semakin banyak orang  yang datang dan berinteraksi di sana. Beberapa ratus tahun kemudian setelah Indonesia merdeka Batavia berganti nama menjadi Jakarta, Ibu Kota Republik Indonesia saat ini.

Terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang menjadi bukti dari interaksi banyak orang dengan berbagai macam latar belakangnya di kota ini, salah satunya adalah rumah peribadatan warga dari etnis Tionghoa yaitu Kelenteng. Di Jakarta terdapat sejumlah Kelenteng bersejarah yang telah berusia ratusan tahun dan beberapa di antaranya telah menjadi cagar budaya karena tinggi nilai sejarahnya.

Dalam buku-buku tempat bersejarah di Jakarta karya Adolf Heuken, Sj (1997: 173) dituliskan bahwa pada abad ke-16 pedagang-pedagang dan pelaut Tionghoa menjadi saingan kuat pedagang-pedagang Eropa di Nusantara. Tentu para pedagang dan pelaut Tionghoa tersebut pernah berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak semua pedagang dan pelaut Tionghoa tersebut kembali ke negaranya, beberapa di antara mereka menetap dan tinggal di seputaran Batavia dan memiliki mata pencaharian sebagai petani, nelayan, buruh pedagang dan sebagainya.

Ketika orang-orang Tionghoa tersebut berada di perantauan mereka juga memiliki kebutuhan dalam hal spiritual dan untuk memenuhi kebutuhan itu mereka membangun sebuah Kelenteng. Di Kelenteng tersebut mereka dapat berintetaksi, berkumpul dan berdoa dalam tradisi dan keyakinan mereka. Setiap Kelenteng memiliki kisahnya masing-masing dan berkaitan dengan tradisi dan kehidupan spiritual sekelompok orang yang pertama kali mendirikannya.

Satu hal yang menjadi catatan dalam tulisan ini, mungkin saat ini masih terdapat kerancuan antara Vihara dan Kelenteng yang kerapkali dianggap sama meskipun Kelenteng dan Vihara adalah berbeda. Kelenteng merupakan tempat peribadatan umat Konghucu atau Tionghoa perantauan sementara Vihara merupakan tempat peribadatan umat Budha.

Kerancuan tersebut terjadi karena setelah terjadinya peristiwa politik di Indonesia pada tahun 1965, pada tahun- tahun setelahnya terjadi pembatasan segala sesuatu yang mengandung unsur budaya Tionghoa sehingga banyak umat Konghucu bergabung dengan salah satu agama dari 5 agama yang diakui negara saat itu, salah satunya adalah Budha yang mungkin lebih dekat secara tradisi. Begitu pula tempat peribadatannya mulai bergabung dan menggunakan nama Vihara sebagaimana yang dapat kita lihat saat ini. Seiring perjalanan waktu, saat ini agama Konghucu telah diakui dan Tahun Baru Imlek telah  ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.

Bertepatan dengan Hari Raya Imlek, Sabtu tanggal 25 Januari 2020 yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi 4 Kelenteng tua dan bersejarah di Jakarta dan khusus untuk Kelenteng ke-5 Vihara Lalitavistara yang  diulas di akhir tulisan, saya pernah mengunjunginya beberapa waktu yang lalu.

Berikut ulasannya:

1. Kelenteng Ancol (Vihara Bahtera Bhakti)

Tidak jauh dari lokasi wisata Panti Ancol Jakarta Utara, di dalam kawasan perumahan Pantai Sanur Ancol, terdapat salah satu Kelenteng tertua di Jakarta. Menurut sumber informasi sejarah, Kelenteng Ancol yang juga dikenal dengan nama Vihara Bahtera Bhakti ini dibangun pada pertengahan abad ke-17 atau sekitar tahun 1650-an.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline