Tidak terasa sudah enam hari lamanya saya berada di Wisma Atlet. Tepat dihari ini pula, saya mendapatkan kabar gembira bahwa saya tidak perlu lagi mengkonsumsi obat Chloroquine (baca Klorokuin) yang selama ini dikenal sebagai obat yang biasa dipakai untuk menyembuhkan pasien malaria. Kabar gembira tersebut saya peroleh ketika hendak mengambil jatah makan pagi di poli lantai 18. Lega rasanya pagi ini. Kenapa bisa begitu guys?
Karena bagi kami penderita Covid-19, mengkonsumsi Klorokuin merupakan siksaan tersendiri. Rasa klorokuin jangan ditanya guys, super pahit. Selain rasa pahit yang luar biasa, Klorokuin juga memiliki efek samping yang tak mengenakan buat Sebagian pasien penderita Covid-19.
Efek samping yang dirasakan oleh pasien Covid-19 setelah mengkonsumsi obat Klorokuin mulai dari yang teringan seperti rasa cemas, mual, pusing, sakit kepala, susah tidur, sampai yang terberat muntah dan nafas pendek. Beberapa pasien yang pernah saya ajak ngobrol mengutarakan bahwa mereka pernah mengalami efek samping tersebut.
Bapak Mansyur, 63 tahun, pasien yang bertempat tinggal di Jakarta Pusat, misalnya mengatakan bahwa dia mengalami efek samping mual dan pusing sejak pertama kali mengkonsumsi obat Klorokuin.
”Bapak sempat pusing dan mual setelah minum obat yang pahit itu. Mau muntah, tapi bapak tahan saja. Lumayan tuh, sampai dua hari, sesudah itu baru biasa kagak ada rasa mual lagi,” ujar Bapak Mansyur menceritakan kisahnya beberapa hari lalu ketika bertemu dengan saya waktu mengambil jatah makan pagi. Kisah serupa juga dilontarkan oleh pasien lainnya, Bu Wulan berusia 48 tahun asal Jakarta Pusat yang sedang dirawat bersama tiga anak dan suaminya.
Dia mengatakan mengalami rasa mual ketika mulai mengkonsumsi obat Klorokuin. Efek samping tersebut berlangsung selama dua hari. Setelah dua hari, dia sudah bisa menyesuaikan diri dengan obat tersebut. Meski mengalami efek samping akibat Klorokuin, Bu Wulan mengatakan bahwa dia tetap akan meminum obat Klorokuin jika masih dikasih oleh nurse.
Kisah pilu terkait Klorokuin datang dari seorang pasien bernama Putri, 27 tahun yang berdomisili di Johor Baru, Jakarta Pusat. Saya mengenal Putri pada tanggal 29 Juli 2020 ketika saya melakukan olahraga di lokasi jogging track.
Dari perkenalan tersebut saya mengetahui kalau Putri dirawat di Wisma Atlet bersama kedua orang tua dan dua saudara laki-lakinya. Sebelum pademik Covid-19, Putri bekerja disebuah hotel di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Tetapi sejak bulan Maret 2020, dia di”rumahkan” dari pekerjaannya.
Putri juga menceritakan asal muasal mengapa seluruh anggota keluarganya berada di Wisma Atlet. ”Pertama-tama, saya yang positif. Saya mengetahui kalau saya positif ketika saya datang ke puskesmas untuk memeriksa sinus. Eh kagak taunya malah disuruh tes swab. Lah sialnya hasil tesnya positif,” ujar Putri.
Setelah diketahui berstatus pasien Covid-19, petugas puskesmas meminta seluruh anggota keluarga Putri untuk menjalani tes swab di puskesmas. Beberapa hari kemudian hasil swab keluar dan seluruh anggota keluarganya dinyatakan positif. Lalu hari itu juga (28 Juli 2020) Putri dan seluruh anggota keluarganya diangkut dengan ambulance menuju Wisma Atlet.
Seperti pasien lainnya, Putri dan kedua orang tuanya diberikan Klorokuin. Putri menjelaskan ibunya mengalami gejala mual dan muntah setelah meminum Klorokuin. “Dua hari lamanya ibu tidak bisa makan. Badannya menjadi lemah. Setiap kali habis minum Klorokuin, ibu pasti pengen muntah. Dan itu tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang,” ujar Putri.