Jika berbicara terkait media, tentu arah pikiran kita akan tertuju kepada media komunikasi seperti media massa. Diantaranya televisi, radio, koran dan surat kabar lainnya. Pekerjaan yang dilakukan di dalamnya tentu tidak main-main.
Jurnalis mencari berita, kemudian diteruskan ke editor. Dan setelah koreksi dilakukan, ruang redaksi jadi ajang pertarungan penempatan berita sebelum disebarkan ke publik. Penjelasan di atas adalah abstraksi sebagian pekerjaan di dunia media massa yang saya ketahui dan pelajari selama kuliah.
Dalam produksi media tentu melibatkan kebutuhan teknologi untuk menunjang kemudahan dan kecepatan bekerja. Informasi terus muncul secara cepat seolah tanpa jeda, ditambah lagi dengan kebutuhan masyarakat akan informasi tersebut. Kecepatan tentu menjadi andalan perusahaan media agar masyarakat tidak kecewa karena ketertinggalan informasi. Munculnya ide penerbitan dua kali dalam sehari (pagi dan sore) untuk surat kabar harian dirasa kurang efisien. Serta pengulangan berita dalam siaran tentu dirasa membosankan jika tanpa update dari berita tersebut.
Di abad 21, internet menjadi sesuatu yang marak. Produk globalisasi ini secara pesat berkembang dan dimanfaatkan hampir seluruh dunia. Hal ini diikuti dengan persebaran gadget khususnya telepon pintar di dunia serta teknologinya yang terus berkembang. Tentu ini dapat memancing media massa untuk maju mengikuti apa yang diinginkan masyarakat. CEO Associated Press (AP), Gary Pruitt pada tahun 2013 (dalam antaranews,com) mengatakan kepada para bos kantor berita seluruh dunia, “Kita semua diingatkan bahwa industri berita tengah berubah, bahwa selera masyarakat kepada berita berubah, sementara teknologi baru terus berkembang dan mengusik model-model bisnis kita.”
KONDISIONAL adalah kata yang bisa saya gambarkan bagi media di tengah perkembangan teknologi di tengah masyarakat. Menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan memanfaatkan apa yang dimiliki masyarakat menjadi jalan baru bagi media mendapat audiens. Internet sebagai sarana menghantarkan informasi kepada masyarakat melalui website yang dikelola media. Melibatkan banyak jenis penyampaian informasi seperti teks atau video memungkinkan terangkulnya seluruh masyarakat dengan berbagai selera yang berbeda dalam menikmati perputaran informasi. Jika dahulu kita menyaksikan bersama tontonan di televisi, kini secara individu kita dapat menikmatinya hanya dalam genggaman.
AP menyebut bahwa Asia adalah tempat di mana informasi berputar sangat kencang. Hingga miliaran orang tiap detiknya berbagi informasi dalam bentuk teks, foto, maupun video. Associated Press menyimpulkan bahwa video adalah platform untuk mendapatkan audiens yang banyak yang nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan bisnis.
Media baru ini berlaku tidak hanya di dalam dunia jurnalistik saja, tetapi juga dunia entertainment dan lain-lain. Seperti halnya berita, tayangan yang terlewatkan oleh penonton di malam hari dapat dinikmati di pagi harinya dengan membuka web atau channel Youtube media terkait. Pengemasan produk kepada masyarakat dengan cara seperti ini dinilai bisa menyasar target konsumen yang diinginkan. Melihat sudah banyaknya masyarakat yang memiliki gawai.
Cerita lain datang dari aspek sumber daya manusia. Kemajuan teknologi di mana satu produk dapat dikemas dalam beberapa jenis berpotensi munculnya penyusutan jumlah pekerja di perusahaan media. Satu orang dengan beberapa pekerjaan dinilai menghemat keuangan perusahaan. Bukan tanpa alasan, anggaran perusahaan (Joan Van Tassel, 2010) paling banyak digunakan untuk kepentingan upah atau gaji pekerjanya. Baik di bagian manajerial atau teknis produksi. Dan di era digital ini tentu menjadi tantangan bagi pekerja kreatif yang dituntut beradaptasi dengan teknologi dan bersaing dengan rival supaya produser dan perusahaan mampu mempertahankan bahkan mendapat perhatian konsumen.
Sidik, Jafar M, 2016, Kantor Berita Era Digital, http://www.antaranews.com/berita/543124/kantor-berita-era-digital , diakses 25 Februari 2016.
Tassel, Joan Van & Lisa Poe-Howfield, (2010), Managing Electronic Media: Making, Marketing, & Moving Digital Content. Elsevier : USA