Lihat ke Halaman Asli

Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Bidang Kesehatan melalui Pendekatan Health Belief Model

Diperbarui: 22 November 2024   00:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Bidang Kesehatan karya Ganis Sanhaji dan Amirul Irsyaad Hizbullah dari Universitas Islam Nusantara bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di bidang kesehatan, termasuk potensinya dalam meningkatkan analisis data medis, diagnosis, personalisasi pengobatan, dan efisiensi layanan kesehatan. 

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan menganalisis berbagai literatur terkait aplikasi AI di sektor kesehatan, serta tantangan dan pertimbangan etis yang muncul dari penerapan teknologi tersebut. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI dapat secara signifikan meningkatkan hasil pasien, memperkuat pengambilan keputusan medis, dan mengoptimalkan pengelolaan rumah sakit. Namun, integrasi AI juga menghadirkan tantangan seperti bias algoritma, privasi data, dan kebutuhan akan kolaborasi antara tenaga medis dan sistem AI untuk memaksimalkan potensinya.

Kecerdasan Buatan dan Transformasi Layanan Kesehatan: Perspektif Health Belief Model

Kemajuan teknologi, terutama di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), telah membawa perubahan besar dalam dunia kesehatan. Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan, AI membuka peluang baru bagi pelayanan kesehatan yang lebih efisien dan terjangkau. 

Namun, sejauh mana masyarakat memahami dan menerima teknologi ini? Pendekatan Health Belief Model (HBM) dapat membantu menjelaskan perilaku masyarakat dalam menerima layanan kesehatan berbasis AI. Susceptibility dan Severity, Dalam perspektif HBM, susceptibility (kerentanan) dan severity (keseriusan) adalah faktor penting yang mendorong seseorang untuk mengambil tindakan preventif. 

Ketika masyarakat menyadari risiko penyakit tertentu yang membutuhkan perhatian medis, seperti diabetes atau hipertensi, mereka cenderung mencari solusi yang lebih cepat dan praktis. AI menawarkan alat untuk diagnosis dini dan pemantauan kesehatan tanpa harus mengunjungi fasilitas kesehatan secara fisik. Misalnya, aplikasi kesehatan berbasis AI mampu mendeteksi pola yang menunjukkan gangguan mental atau fisik, membantu individu memahami kondisi mereka lebih baik.

Benefits dan Costs

AI memberikan banyak keuntungan (benefits), seperti konsultasi daring, analisis data medis, dan tutorial tindakan medis yang realistis. Misalnya, tutorial berbasis AI untuk pembedahan memberikan langkah-langkah interaktif yang lebih efektif dibandingkan pendekatan tradisional (Wentink et al., 2003). 

Selain itu, aplikasi seperti Ginger.io mampu memantau kebiasaan pengguna dan memberikan intervensi personal untuk kesehatan mental. Namun, costs atau hambatan juga menjadi perhatian. Privasi data, kepercayaan pada teknologi, dan keterbatasan akses terhadap teknologi digital di daerah tertentu adalah tantangan yang perlu diatasi.

Cues to Action

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline