Asam lambung adalah cairan yang diproduksi oleh lambung untuk membantu proses pencernaan makanan, khususnya protein. Namun, jika produksi asam lambung berlebihan atau asam lambung naik ke kerongkongan (refluks asam), ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD) atau heartburn.
Beberapa faktor yang dapat memicu peningkatan atau naiknya asam lambung meliputi:
- Makanan pedas, asam, berlemak atau minuman berkafein (kopi, teh) serta minuman bersoda
- Kondisi psikologis seperti stres atau kecemasan dapat merangsang produksi asam lambung berlebih
- Terlalu lama menunda makan atau makan dalam porsi besar dapat memicu naiknya asam lambung
- Tekanan berlebih pada perut akibat kelebihan berat badan dapat memicu refluks asam lambung
- Tidur setelah makan, terutama dalam posisi datar, dapat membuat asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan
Pembahasan menarik tentang asam lambung yang mungkin jarang dibahas secara mendalam di internet tetapi sering membuat orang penasaran adalah hubungan antara asam lambung dan gangguan mental atau emosional, khususnya kecemasan dan depresi. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa masalah asam lambung bukan hanya disebabkan oleh makanan, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi psikologis.
Banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecemasan, depresi dan gastresophageal reflux disease (GERD). Kondisi-kondisi ini bisa saling memengaruhi, di mana kecemasan atau stres kronis dapat memperburuk gejala asam lambung, sementara refluks asam yang berulang dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan seseorang.
Ketika seseorang mengalami kecemasan atau stres, tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol. Hormon ini bisa memicu peningkatan produksi asam lambung atau memperburuk otot-otot di saluran cerna, yang menyebabkan terjadinya refluks. Selain itu, kecemasan dapat memperlambat pencernaan yang menyebabkan penumpukan makanan di perut dan meningkatkan produksi asam lambung.
Di sisi lain, masalah asam lambung yang berulang bisa menciptakan siklus kecemasan. Ketika seseorang terus-menerus mengalami heartburn atau refluks, hal ini bisa mengganggu kualitas hidup, termasuk gangguan tidur. Kurangnya tidur yang berkualitas bisa memperburuk kondisi mental, menciptakan siklus kecemasan dan stres yang semakin parah.
Tidak sedikit penderita GERD mengalami heartburn yang memburuk di malam hari, mengganggu tidur mereka. Kurang tidur ini bisa memperburuk kecemasan dan kecemasan yang meningkat kembali memperburuk gejala GERD.
Fakta Menarik, ada koneksi antara otak dan saluran cerna yang disebut gut brain axis, yang di mana sistem saraf enterik berkomunikasi secara langsung dengan sistem saraf pusat. Ini berarti apa yang terjadi di otak dapat memengaruhi lambung dan sebaliknya.
Ketika otak merespon stres atau kecemasan, ia dapat mengirim sinyal ke lambung yang memengaruhi pencernaan. Ini bisa memicu peningkatan produksi asam atau memperlambat gerakan lambung.
Sebaliknya, kondisi di lambung seperti kelebihan asam lambung atau refluks yang berulang, bisa mengirimkan sinyal ke otak yang memicu perasaan cemas atau tertekan.
Lalu, bagaimana cara mengatasi hubungan antara kecemasan dan asam lambung?