Lihat ke Halaman Asli

Gempa di Kaltara, Rencana PLTN di Berau Masih Lanjut?

Diperbarui: 22 Desember 2015   18:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

PEMERINTAH Pusat bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau. Namun apakah rencana tersebut masih akan berlanjut setelah gempa berkekuatan 6,1 skala richter (SR) goyang wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (21/12) dini hari?

Rencana pembangunan PLTN di Berau ini sebelumnya menuai pro dan kontra di Kalimantan Timur. Sebagian masyarakat menganggap pembangunan PLTN di Kalimantan Timur belum waktunya karena energi tersebut banyak resiko serta tidak ramah lingkungan. Penolakan kencang disampaikan LSM pegiat lingkungan.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak terus meyakinkan publik, bahwa PLTN aman dibangun di Berau. Salah satunya adalah Kalimantan disebut bebas gempa. Bahkan Awang sering menyebut kalangan yang menolak atau kontra, cara berpikirnya kalah dengan masyarakat pedesaan yang menerima wilayahnya dibangun PLTN. Gubernur mengklaim warga yang wilayahnya akan dibangun PLTN sangat mendukung.

Namun, saat ini asumsi Kalimantan aman dari gempa terpatahkan. Rencana itu pun harus ditinjau ulang. Pemerintah harus mengkaji ulang resiko proyek tersebut setelah gempa melanda Kalimantan Utara. Diketahui, lokasi pusat gempa dengan wilayah Berau tidaklah jauh.

Jika rencana itu diteruskan, sampaikan hasil kajian yang menjamin proyek PLTN aman. Meskipun asumsi Kalimantan aman dari gempa sudah terpatahkan. Jangan sampai menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat karena mereka tidak mengetahui seperti apa pembangunan PLTN tersebut. Sampaikan dampak atau resiko terbesar dari PLTN.

Libatkan banyak pihak untuk melakukan kajian karena proyek PLTN bukan proyek remeh temeh, melainkan proyek besar yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Proyek besar yang memiliki resiko besar.

Berita soal gempa yang saya baca di harian Koran Kaltara (www.korankaltara.co) menyebutkan, gempa membuat kerusakan bangunan di Kota Tarakan dan Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara. Bahkan, saking terasa getarannya, beberapa rumah ambruk, rata dengan tanah. Gempa tak peduli terhadap bangunan dari apa konstruksinya.

Prakirawan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Wiliam Sinaga seperti dikutip Koran Kaltara menjelaskan, kondisi tektonik di bagian timur Pulau Tarakan memang cukup kompleks, sehingga zona ini merupakan kawasan paling rawan gempa bumi di Pulau Kalimantan.

Selain disebabkan adanya beberapa struktur geologi sesar turun kerawanan, gempa bumi di zona ini juga terjadi karena adanya beberapa struktur sesar mendatar. Zona Nunukan – Tarakan dan sekitarnya secara tektonik diapit tiga sistem sesar mendatar. Di sebelah selatan terdapat dua sistem sesar yang berarah barat daya – tenggara, yaitu zona sesar Mangkalihat dan zona sesar Maratua.

Menurutnya, zona sesar Mangkalihat (di wilayah Kutai Timur-Kalimantan Timur) merupakan sesar kelanjutan dari sesar Palu – Koro yang melintas dekat Kota Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Keberadaan zona sesar Maratua, Berau, Kalimantan Timur juga tidak kalah penting untuk diperhatikan, karena ujung sesar ini terletak di lautan yang lokasinya berdekatan dengan Kota Tanjung Selor, Kalimantan Utara.

Dari keterangan BMKG tersebut, bisa diartikan bahwa kawasan di dasar laut yang menyebabkan gempa, terhampar antara Kalimantan Utara hingga Kalimantan Timur. Bahkan berada di wilayah Berau yang kawasannya akan dibangun PLTN tersebut. Sehingga potensi terjadinya gempa di kemudian hari masih ada. Meskipun perlu adanya penelitian mendalam oleh para ahli geologi dan geofisika.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline