Konflik ialah bagian yang tidak dapat terpisahkan pada kehidupan warga, permasalahan dapat bersifat tertutup (latent) dan terbuka (manifest). Konflik berlangsung sejalan dengan dinamika masyarakat. Hanya saja ada katup-katup sosial yang dapat mencegah permasalahan secara kini, sehingga tidak berkembang luas.
Tetapi ada juga faktor-faktor pada masyarakat yang praktis meyulut pertarungan menjadi berkobar sedemikian besar, sebagai akibatnya memprokandakan tempat tinggal, mal, serta mungkin juga sistem sosial secara holistik. dalam susasana sistem sosial masyarakat Indonesia yg sangat rentan terhadap banyaknya gejolak ini, sedikit pemicu saja sudah cukup menyebabkan berbagai konflik. Pluralitas masyarakat Indonesia artinya keragaman pada sebuah wujud persatuan bangsa keragaman, keunikan, serta parsial. Secara antropologis serta historis, warga Indonesia terdiri dari berbagai etnis, budaya dan agama yang tidak selaras dan mengikat dirinya antara satu dengan lainnya menjadi suatu bangsa.
Berjalan berkembangnya sebuah bangsa, berbagai macam konflik horizontal berhasil diredam dengan semangat persatuan. Meski begitu, tantangan terhadap pluralisme di Indonesia terus menentang seperti yang terjadi baru-baru ini. Berkembangnya teknologi mendatangkan potensi konflik di level yang berbeda. Ujaran kebencian banyak ditemui dalam media sosial yang akhirnya berdampak pada hubungan antar kelompok di dunia nyata.
Keberlainan seringkali dimaknai sebagai genderang permusuhan sehingga muncul sifat "Keakuan". Diskriminasi terhadap grup-grup minoritas yang mana berimplikasi terhadap konflik serta hak atas pengakuan, persamaan di depan hukum serta yang paling terjadi hak ekonomi menjadi tidak tercukupi.
Dalam merawat keberagaman, sifat keakuan ini menjadi sesuatu yang harus dihindari serta diperangi bersama. Menjaga keberagaman semestinya menjadi semangat dan tanggung jawab semua pihak, tidak hanya pemerintah saja, masyarakat sipil saja atau grup minoritas, walaupun harus melibatkan berbagai aktor. Pemerintah wajib menggangdeng beragam aktor baik tokoh masyarakat, tokoh agama, dan spesifiknya mereka yang lemah untuk menjaga keberagaman.
Terdapat kesadaran buat membentuk ikatan kehidupan secara utuh serta bulat, tidak lain ialah berangkat dari fenomena sekaligus pengalaman bangsa Indonesia pada upayanya untuk mempertahankan sekaligus mencapai proklamasi kemerdekaan yang terkandung pada Konstitusi Negara Republik Indonesia.
Terdapat masa kemajemukan (pluralitas) asal bangsa ini sebagai satu kekuatan yang menghantarkan sekaligus membuahkan keyakinan akan kemampuannya buat berdiri sendiri (merdeka) berdiri sama tinggi serta duduk sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. tetapi terdapat masa seperti yang dirasakan pada dewasa ini, semangat pluralitas yang mengemuka demikian kuat itu justru sudah sebagai kekhawatiran bisa mengancam disintegrasi bangsa Indonesia itu sendiri atau pluralitas dipahami menjadi faktor hambatan keberlangsungan bangsa serta negara.
Kemudian apa yang berlangsung, ini kemudian membuka ruang konflik yang tumbuh dengan arogansi sektoral, komunal serta kultural, ini melahirkan suatu pertanyaan fundamental perihal hakekat pluralitas yang dimiliki bangsa Indonesia , apakah akan sebagai kekuatan atau kebalikannya? Demikian juga timbulnya konflik itu sendiri, apa yang menjadi akar konflik dan akan kemanakah arah demokrasi yang sudah sebagai konvensi bersama.
Hal lain tentunya berkaitan dengan peran dan fungsi pemerintah, forum rakyat, tokoh masyarakat baik formal juga informal termasuk tokoh-tokoh kepercayaan pada keterlibatannya buat merespon konflik dan pola pengelolaan kehidupan pluralitas asal bangsa Indonesia ini buat beranjak pada jalur yang sempurna.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H