"Hahaha... miminku, you're nothin but dha best. FYI, barusan nangkring in my head. Just to be honest, jujurly ai lop yu"
Well, begitulah komentar saya untuk Mimin yang sukses membaca isi kepala saya. Akhirnya topil bahasa Jaksel moentjoel ke permukaan. Ahaay!
Bahasa gaul yang dipopulerkan oleh anak-anak Jakarta Selatan pada awalnya mendapat pertentangan keras.
Kontroversi tersebut timbul dikarenakan penggunaan bahasa Indonesia yang dianggap meninggalkan marwah bahasa negri sendiri. Atau karena komunikan kurang dapat menangkap kosakata dalam bahasa gaul sehingga pesan kurang tersampaikan dengan baik? Entah.
Bagi beberapa orang, pandangan ini justru membuat pengejawantahan bahasa hanya ditilik dari sudut pandang hitam atau putih. Antara baik dan benar pada saat pemilihan kosakata dalam percakapan.
Bahasa Jaksel yang unik mulai mewabah di kalangan generasi Z melalui komunikasi dalam beragam aplikasi perpesanan jejaring sosial.
Mari kita sedikit mengulik proses komunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
Harold Dwight Lasswell, pencetus Teori Komunikasi membagi komponen proses komunikasi ke dalam lima unsur. Komunikan ( si penerima pesan), komunikator (si pemberi pesan), pesan, media, efek.
Mau komunikasi kita menjadi harmonis? Ya, kelima unsur tersebut harus bersinergi. Tak lepas pula kontrol emosi (yang ini ga boleh terlewatkan), Saudara.
Permasalahan yang timbul dalam penggunaan bahasa belibet ini adalah pemahaman pesan informasi dalam tutur komunikator. Ya, pesan tidak akan tersampaikan bila tidak ada kesepahaman antara komunikan dan komunikator.