Refused Derived Fuel (RDF) menjadi salah satu solusi inovatif dalam pengelolaan sampah yang terus meningkat di tengah isu krisis lingkungan. RDF adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari limbah padat non-berbahaya.
Konsep ini tidak hanya mendukung pengurangan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) tetapi juga menyediakan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibanding bahan bakar fosil.
Apa Itu Refused Derived Fuel (RDF)?
RDF merupakan produk olahan dari sampah yang telah melalui proses pemilahan, pengeringan, dan pemadatan. Bahan bakar ini umumnya dihasilkan dari sampah yang sulit didaur ulang, seperti plastik, kertas, dan limbah organik yang memiliki nilai kalor tinggi. RDF sering digunakan sebagai pengganti batubara di industri semen dan pembangkit listrik tenaga uap.
Menurut studi dari European Commission (2021), RDF dianggap sebagai solusi yang efektif untuk mengatasi dua masalah besar sekaligus, yaitu pengelolaan sampah dan penyediaan energi berkelanjutan.
RDF membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus meminimalisasi emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran sampah konvensional.
Proses Produksi RDF
Pembuatan RDF melalui beberapa tahapan utama, antara lain:
1. Pemilahan Sampah: Sampah dipisahkan berdasarkan jenis dan karakteristiknya. Sampah organik yang membusuk dan material berbahaya biasanya dieliminasi pada tahap ini.
2. Pengeringan: Sampah yang telah dipilih dikeringkan untuk mengurangi kadar air sehingga nilai kalor meningkat.
3. Pencacahan: Material yang sudah dikeringkan dicacah menjadi ukuran lebih kecil agar mudah diproses.