Lihat ke Halaman Asli

Devan Frisky Vizal Finanta

Mahasiswa S1 Program Studi Antropologi Universitas Airlangga

Memaknai "Kekuwunging Diri" dalam Bedhaya Kuwung Kuwung di Era Sri Sultan Hamengkubuwono VII

Diperbarui: 30 Juni 2022   08:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tari Bedhaya Gaya Yogyakarta (Source: google)

 

"...kasunaring baskara sri angenguwung, teja wangkawa nglimputi..."
"...karya witing siang dalu, lir widadari ing swargi..."

Kata-kata indah di atas merupakan penggalan cakepan atau lirik sindenan dari Bedhaya Kuwung Kuwung yang berkembang di era Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Kesenian di Jawa khususnya dalam bidang seni tari sangatlah beragam. Dari mulai tarian rakyat hingga tarian yang muncul dari balik dinding istana pun cukup banyak yang telah kita ketahui sebelumnya. Salah satu bentuk karya ekspresi diri manusia ini adalah tari bedhaya. Tari ini dikenal sebagai sebuah tari yang cukup sakral dan memiliki posisi yang tinggi dalam tembok istana. Tarian ini ditarikan oleh 9 orang penari putri sebagai simbolisasi dari "babahan howo songo" atau sembilan lubang yang ada di dalam diri manusia. Kesembilan lubang ini meliputi dua lubang mata, satu lubang hidung, satu lubang mulut, dua lubang telinga, satu lubang kemaluan, dan satu lubang pembuangan. Seorang manusia harus menjaga diri dari macam-macam hawa nafsu yang keluar dari kesembilan lubang ini supaya pada akhirnya manusia dapat "Ngening" atau mengheningkan esensi dari kehidupan mereka sehingga tercipta sifat-sifat kebajikan dari dalam diri manusia itu sendiri.

Sembilan Penari Bedhaya Sebagai Simbolisasi Babahan Howo Songo 

   

Sri Sultan Hamengkubuwono VII dan Bedhaya Kuwung Kuwung

Sultan Sugih dan Sinuwun Ngabehi, dua julukan ini pantas disematkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Pasalnya, di era kepemimpinan sang sultan, Yogyakarta mengalami masa keemasan dan kemajuan yang cukup pesat baik di bidang perekonomian maupun kebudayaan. Dalam masa kepemimpinannya, banyak sekali pembaharuan-pembaharuan di dalam lingkungan keraton, seperti penciptaan-penciptaan tarian baru, salah satunya adalah Bedhaya Kuwung kuwung ini. Mengapa bedhaya ini dinamakan Kuwung Kuwung? Jawabannya adalah, karena gendhing pengiring tari bedhaya ini bernama Gendhing Kuwung Kuwung.

Bedhaya Kuwung Kuwung merupakan ciptaan dari KRT Purbaningrat, seorang empu tari keraton pada masa itu yang dimandati oleh sang sultan untuk menciptakan tarian ini bersama KRT Jayadipura. Namun, di era Sri Sultan Hamengkubuwono VI telah ada kelembagaan tari Bedhaya dengan nama yang sama tetapi tidak diketahui pasti esensi dan bagaimana bedhaya tersebut diciptakan. Dalam meneliti sebuah tarian, khususnya tarian yang berada di lingkungan keraton, selain dilihat dari masa penciptaannya, juga bisa diperhatikan dari peruntukan tari itu sendiri.

Bedhaya Kuwung Kuwung di era Sri Sultan Hamengkubuwono VII pementasannya diperuntukan sebagai perayaaan kehormatan atas disematkannya tanda kehormatan berupa agem-ageman dalem bintang agung kumendor (Bintang komando, semacam lencana kehormatan bagi sultan), oleh Gumermen (Pangkat gubernur jendral) Belanda saat itu. Selain itu dalam serat kandha atau sebuah deskripsi singkat mengenai tarian yang dibacakan saat penari akan pentas dalam suatu pagelaran, juga memuat identitas penting mengenai tarian tersebut.

Sri Sultan Hamengkubuwono VII duduk di Dhampar Kencana (kemungkinan menggunakan agem-ageman dhalem bintang agung kumendor di dada sebelah kiri)

Pemaknaan Kata "Kuwung" dalam Bedhaya Kuwung Kuwung      

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline