Lihat ke Halaman Asli

Deny Oey

TERVERIFIKASI

Creative Writer

Geliat Belanja Daring dan E-Commerce di Indonesia

Diperbarui: 28 November 2018   13:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Para narasumber (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sedekade lalu, saya baru saja mengenal bisnis online. Prinsipnya sederhana, pembeli akan mentransfer sejumlah uang sesuai harga barang tersebut, kemudian penjual mengirim paketnya. Ada juga metode pembayaran COD (Cash on Delivery) di mana pembeli dan penjual bertemu tatap muka untuk melakukan transasksi.

Metode pertama sangat menarik, karena selain berdasarkan prinsip "saling percaya", penjual juga menggunakan jasa kurir untuk mengirimkan paketnya. Jasa kurir yang umum digunakan saat itu adalah JNE. Alasannya, selain memiliki banyak cabang di kota-kota besar maupun kota kecil, paket pengiriman juga dapat dilacak secara online. JNE membantu menggairahkan geliat pasar online yang saat itu hanya berbasis media sosial.

Industri-industri yang mulai berkembang berkat bisnis online adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Seiring berjalannya waktu, e-commerce bermunculan dan semakin meningkatkan transaksi jual-beli atau belanja online. Selain itu, UMKM memiliki peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian nasional.

***

Sebagai perusahaan jasa kurir ekspres dan logistik yang telah menjalankan bisnisnya selama hampir 28 tahun di Indonesia, JNE mendukung perkembangan UMKM lokal, salah satunya di kota Bogor. Untuk itu, JNE bersama Kompasiana menggelar acara KOPIWRITING dengan tema "Belanja Online di Social Media atau E-Commerce", di Salak Tower Hotel, Bogor, Rabu (14/11/18) silam.

Kopiwriting JNE (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pada kesempatan tersebut, turut hadir Eri Palgunadi,  VP of Marketing JNE, Mohamad Rosihan, Tenaga Ahli Senior Perdagangan Sektetariat Roadmap E-Commerce Kemenko Bidang Perekonomian RI, serta Sandra Alfina, Co-Founder Sunkrisps, sebagai salah satu perwakilan UMKM di Bogor.

Pada pemaparannya, Sandra bercerita mengenai Sunkrisps sebagai salah satu produk usaha yang berkembang di Bogor. Mengusung produk camilan sehat berbasis sayuran, Sunkrisps mengandalkan media sosial Instagram bukan untuk sekadar pemasaran, tetapi juga mengedukasi konsumennya.

"Melalui media online, khususnya media sosial, kami menyajikan konten dengan kualitas baik secara konsisten sehingga customer berminat dengan brand dan produk sehingga melakukan pembelian," ujarnya.

Perkembangan UMKM di kota Bogor memang berkembang pesat. Tercatat ada sekitar 23.000 UMKM di Bogor. Beberapa bahkan sudah merambah daring dan pernah mengirimkan paketnya sampai ke pelosok daerah. Contohnya, Sunkrisps pernah mengirimkan produknya hingga ke kota kecil di Papua. Semua itu berkat media online.

UKM semakin berkembang (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Senada dengan Sandra, Rosihan juga mengungkanpkan bahwa UMKM perlu melirik pasar online sebagai salah satu strategi pemasaran produk.

"E-Commerce terbagi dua, formal (marketplace) dan informal (social media). Ini yang harus dimanfaatkan Industri Kecil Menengah untuk menuju online," ujarnya.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tercatat di tahun 2017 ada 143 juta pengguna internet. Tentu ini merupakan peluang besar bagi UMKM guna melebarkan sayap di bisnis online. Apalagi saat ini semakin banyak orang yang melakukan transaksi belanja online.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline