Lihat ke Halaman Asli

Deny Oey

TERVERIFIKASI

Creative Writer

Zlatan, Zlatan, oh Zlatan

Diperbarui: 26 April 2016   04:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ilustrasi - uefa.com"][/caption]Sepakbola adalah ironi, sepakbola adalah komedi, atau mungkin bisa saja keduanya. Seperti halnya jika kita meruntuhkan menara eiffel lalu menggantinya dengan patung Zlatan. Entah dengan gaya pongahnya sambil memegang bola atau saat mengeksekusi freekick. Mungkin jika ingin lebih dramatis lagi bolehlah mencontek gaya patung ‘False God’ Superman yang mungkin saja akan dicoret oleh Ibra sendiri dengan kata-kata ‘I am God’. Pastinya, patung Zlatan Ibrahimovic tidak akan kita temukan di Paris, paling tidak untuk saat ini.

Empat tahun berkelana di Perancis sepertinya sudah cukup bagi Ibra. Lagipula disana ia sudah tidak menemukan tantangan lagi. Paris Saint Germain dan Liga Perancis sudah menjadi copy paste dari liga di timur Eropa yang kita kenal dengan nama Liga Jomblo, maaf maksud saya Bundesliga. Seluruh gelar di Perancis sudah diraih, baik klub maupun individu. Dengan status free transfer, banyak klub yang menginginkan tanda tangannya, terutama dari dataran negeri Ratu Elizabeth. Buktinya, klub ‘sekelas’ West Ham United saja berani menawar Ibra. Namun melihat level permainannya yang masih terjaga dan kian meningkat di usia yang makin bertambah (seperti Benjamin Button, menurut agennya si gendut Mino), agaknya Ibra lebih memilih bermain untuk klub yang bermain di level tertinggi. Kalau boleh dianalogikan, Ibra seperti mobil sport mewah dan mahal yang tidak mau digunakan sebagai taksi online dan bermacet ria di lalu lintas ibukota.

Lantas, jika Zlatan Ibrahimovic ingin menjajal tantangan Premiere League, ke kota dan klub mana ia akan berlabuh?

London

Chelsea baru saja menunjuk Antonio Conte sebagai pelatih dan Ibra punya pengalaman bagus kala dilatih oleh Italiano seperti Fabio Capello atau Carlo Ancelotti. Namun posisi utama masih milik Diego Costa. Ada wacana tukar gulung bahwa Costa akan dilego musim panas nanti dan PSG menjadi salah satu peminat. Namun hal ini sedikit mustahil karena Conte meminta manajemen mempertahankan Costa. Chelsea sendiri musim depan juga tidak akan bermain di Eropa. Perlu dicatat, Ibra hanya ingin bermain untuk klub yang berpotensi menjuarai Liga Champions. Apa gunanya ia harus menunggu kesempatan bermain di Eropa musim berikutnya lagi (dan belum tentu juara) sambil bermain di turnamen lokal dan piala antarkampung.

Ke Arsenal? Oliver Giroud memang kurang tajam dan jelas bahwa Meriam London butuh penyerang haus gol. Namun bila memilih Arsenal, kita kembali teringat memori kala Ibra masih menimba ilmu di Malmo dan mendapatkan undangan trial dari Arsene Wenger. Zlatan Ibrahimovic, yang saat itu masih bukan siapa-siapa, dengan angkuhnya berkata bahwa “Zlatan tidak mengikuti audisi.” Cukup mengejutkan karena saat itu Arsenal masih berstatus dua kuda pacu di Inggris dan disegani. Mungkin Ibra berpikir bahwa ia bukanlah Zayn Malik, dan Arsene Wenger juga bukan Simon Cowell. Selain itu, mungkinkah Zlatan rela menurunkan harga dirinya untuk klub yang hanya mengejar target bermain di Liga Champions lewat babak kualifikasi. Bila anda melihat Ibra berkostum Arsenal, bangun! Anda sedang bermimpi buruk.

Manchester

Jika ingin bereuni dengan Jose Mourinho, yang kemungkinan besar akan melatih MU musim depan, The Red Devils menjadi jawabannya. Ibra memang memiliki hubungan yang baik dengan Mou (mungkin karena sifat mereka yang identik). Dan lagi-lagi MU harus memberikan tempat untuk Ibra. Posisi Rooney sebagai kapten dan penyerang tengah sudah tergeser musim ini, dan Ibra juga tak sudi bersaing dengan ‘yang katanya’ striker masa depan Perancis, apalagi dengan bocah ingusan yang masih duduk di bangku SMA dan kebetulan menjadi bintang dadakan.

Manchester City? Ah, apa anda yakin Zlatan mau bermain untuk tim yang ditukangi oleh pria yang amat dibenci olehnya. Bisa saja Ibra bermain untuk The Citizens, asalkan Pep bersedia berlutut dan mencium sepatunya. Lagipula mereka juga sudah punya striker tajam yang memiliki gelar ‘mantan menantu legenda sepakbola Argentina.’ Ibra yang dulunya merupakan ‘mantan pemain buangan’ calon pelatih mereka jelas sudah tidak punya tempat disana.

Liverpool

Sepakbola ala Inggris, yang menghentak-hentak dan ala Rock ‘n Roll, Jurgen Klopp adalah penggiringnya. Canda tawa antara dirinya dan Klopp di gala FIFA Ballon d’Or dua tahun silam bisa saja menjadi kenyataan. Saat itu Ibra bertanya kapan Klopp akan memboyongnya ke Dortmund dan Klopp berseloroh bahwa ia harus menjual seluruh pemainnya untuk membeli Ibra. Kini Klopp melatih Liverpool dan tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk mendatangkan Ibra.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline