Lihat ke Halaman Asli

Denny Abdurrachman

Pembelajar Masalah Sosial | Disabilitas | Pendidikan | Pendidikan bagi Disabilitas

Membangun Mentalitas Berani Mencoba dan Berani Salah bagi Murid

Diperbarui: 18 Januari 2024   01:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi anak-anak belajar di kelas (Purestock via kompas.com)

Membentuk pembiasaan berani mencoba bagi murid itu tidak mudah. Banyak murid seringkali saling tunjuk ketika diminta maju ke depan, banyak murid seketika terdiam jika guru bertanya, banyak murid lebih banyak bersikap pasif ketika diskusi atau kerja kelompak dan banyak kasus lainnya.

Kelas saya termasuk salah satunya. Saya ingat waktu awal saya menjadi guru kelas untuk mereka. Mereka ragu-ragu untuk mengkomunikasikan apa yang mereka tahu. Mereka ragu-ragu untuk maju ke depan mengerjakan tugas di depan kelas atau mendemonstrasikan suatu hal. Mereka juga ragu-ragu untuk menjadi tutor sebaya bagi teman lainnya. 

Saya pikir banyak hal yang membuat murid saya mengalami kondisi tersebut. Asumsi awal saya adalah bahwa kedekatan saya dengan murid secara personal belum terjalin erat di awal-awal pertemuan. 

Kemudian, saya juga berpikir bahwa mereka tidak terbiasa dan dibiasakan untuk berani berbicara, berani mencoba, berani salah. Padahal keberanian merupakan salah satu modal untuk belajar dan berkembang. 

Lingkungan kelas yang negatif (read: toxic) juga sedikit-banyak mempengaruhi kemauan peserta didik untuk belajar serta keberanian untuk melangkah. 

Murid salah dikit, disoraki teman lainnya. Murid aktif dikit, dianggap ingin kelihatan pintar oleh teman lainnya. Murid datang ke sekolah lebih awal dari biasanya, dianggap aneh dan tidak lazim oleh teman lainnya. Sementara teman-teman yang lainnya hanya stuck jalan di tempat dan tidak melakukan apa-apa untuk mengubah diri. 

Komentar negatif akan memberikan sugesti negatif. Sugesti yang negatif akan membuat minat belajar lama kelamaan bisa terkikis dan akhirnya habis. Lambat laun, seorang murid akan merasa bahwa dirinya tidak pandai dan tidak mampu. 

Padahal proses pembelajaran mestinya dimulai dengan ketakjuban, rasa ingin tahu, rasa nyaman, berani mencoba dan dukungan dari sesama.

Saya membentuk diri saya sebagai wujud guru dengan perangai yang friendly pada murid. Bisa dihitung dengan jari jumlah saya marah-marah di kelas. 

Di sela-sela waktu belajar atau bahkan di jam belajar saya seringkali membuka obrolan yang cukup 'dalam' dan bermakna dengan murid-murid di kelas. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline