Lihat ke Halaman Asli

Erni Purwitosari

TERVERIFIKASI

Wiraswasta

Tak Mengapa Tak Ada Ketupat dan Opor, yang Penting Ada Kebersamaan

Diperbarui: 10 Mei 2022   04:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumen pribadi

Setiap kali memutuskan untuk mudik saat lebaran. Itu artinya sudah siap untuk tidak makan ketupat dan opor di hari lebaran.

"Kok bisa?"

Nah, biasanyakan  lebaran identik dengan ketupat dan opor. Namun tidak demikian dengan keluarga kami.

Tidak ada acara masak-memasak di rumah saya jika sudah merencanakan untuk mudik. Jadi hanya masak nasi dan ayam goreng untuk sarapan serta bekal perjalanan.

Begitu tiba di tujuan, kampung halaman ibu di Jawa Tengah. Atau di tempat saudara-saudara ibu di Lampung. Tak akan menjumpai ketupat atau opor juga.

"Loh!"

Sebab tradisi di kampung memang begitu. Masak ketupat dan opornya setelah lebaran ketujuh. Jadi satu Minggu setelah lebaran. Yang biasa disebut dengan lebaran ketupat.

Nah, saat itulah semua orang mulai merebus ketupat, memasak opor, semur dan lain-lain. Sedangkan saya lebaran kelima sudah kembali ke Jakarta.

Itu artinya tak akan menjumpai ketupat dan opor di kampung halaman. Meskipun sedang suasana lebaran.

"Jadi suguhannya apa dong?"

Tentu ada. Yaitu berupa nasi dan lauknya. Ketika saya datang sih diambilkan ikan gurame dari kolam. Kemudian digoreng dan dibuatkan lalapan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline