Lihat ke Halaman Asli

Penyakit Hati

Diperbarui: 4 Januari 2023   07:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Hati sama diartikan dengan kalbu/akal. Kesehatan adalah posisi di mana sesuatu itu berada dalm tempat yang normal dan wajar. Kalau tidak wajar bisa jadi karena berkurang atau berlebihan. Sama halnya dengan tekanan darah, bila tinggi akan menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi), bila rendah menyebabkan hipotensi. Begitu pula dengan hati. Hakikatnya manusia itu diciptakan dalam keadaan fitrah, hatinya suci. Akan tetapi, lingkungan dan pergaulannya yang membuatnya kotor. Sebaliknya, boleh jadi lingkungan dan pergaulannya menjadikan terpeliharanya dengan baik, bahkan bisa dipenuhi oleh cahaya sehingga cemerlang. Jadi, semuanya tergantung input yang masuk ke hati. 

Hati itu sangat bersih dan ibarat cermin yang sangat bening, tetapi kalau ada orang yang berdosa, maka meneteslah satu tetes hitam di kaca yang bening itu. Apabila berulang-ulang melakukan dosa tanpa adanya taubat, maka cermin/kaca itu menjadi karatan dan tidak lagi memantulkan atau menerima cahaya. Itulah orang yang parah sakit hatinya. Puncak penyakit hati adalah mempersekutukan Allah. Keangkuhan, ingin dipuji, tenggelam dalam kemewahan yang merusak, minder, takut merupakan contoh penyakit hati. 

Berani itu bagus, tetapi berani itu harus ada perhitungan agar tidak ceroboh. Kalau keberaniannya kurang atau penakut juga akan merugikan dirinya sendiri. Orang yang keminter/sok tahu dan orang yang tidak berpengetahuan kalau tidak belajar juga termasuk penyakit hati. Sehingga dari sini dapat disimpulkan jika keadaan hati itu harus seimbang.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline