Bambu runcing pernah berjaya. Ia sempat merupakan bagian dari kekayaan sistim pertahanan kita. Tapi sekarang secara formal sudah tiada. Yang ada hanya historical dan kultural.
Jadi jangan coba lihat di daftar alutsista (Alat Utama Sistim Pertahanan) Menhan Prabowo Subianto. Disana hanya akan ditemui sebangsa ; Jet tempur SU 30, Tank tempur leopard, KRI Nagapaksa, Peluncur roket utama multiple atros II atau Rudal RBS-15MK3.
Bambu runcing hanya akan ada dalam hati dan mimpi. Secara fisik mungkin masih ada di beberapa daerah dalam bentuk lambang atau monumen Sebut saja di Surabaya, Brebes, Sleman, Pontianak dan Bandung. Atau di musium Satria Mandala di Jakarta. Beberapa daerah itu mengabadikan BR sebagai lambang keberanian dan rela berkorban.
Namun bagaimanapun bambu runcing pernah menjadi bagian dari sejarah bangsa. Ia juga sempat menjadi kebanggaan para pejuang kemerdekaan. Bahkan ditakuti musuh.
Tentara Belanda konon lebih takut tertancap ujung lancip bambu haur dari pada letupan peluru senjata api. Katanya tertembus peluru masih bisa disembuhkan tapi tertancap bambu runcing akan mati secara pelan pelan.
Konon hampir semua bambu runcing bertuah. Terutama yang digunakan perang melawan penjajah di Surabaya dan Ambarawa October sampai Nopember 1945.
Senjata tradisional itu memang telah disuwuk (dicuci air dan dimantrai pak kiyai). Setidaknya ada dua kiyai yang dikenal piawai "mensuwuk" bambu runcing. Yang seorang bernama kiyai Subchi atau Subekti) di kampung Parakan Temanggung Jawa Tengah. Yang seorang lagi mbah Manshur di desa Kalipucung Blitar.
Kapan senjata yang kegendaris itu mulai dipergunakan? Di dalam literasi dan narasi yang ditemukan dimulai menjelang dan pasca kemerdekaan. Yang hebat ketika terjadi perang di Ambarawa dan Surabaya. Kedua perang itu melibatkan puluhan ribu santri, laskar rakyat seperti Hisbullah dan Sabilllah serta TKR.
Dalam semangat tempur yang tinggi antara lain berkat resolusi jihad yang diunggah ijtihad tokoh NU dibawah komando KH Hasyim As'ari, terasa ketiadaan senjata.
Maka muncullah kiyai Subchi dengan ide bambu runcing yang sudah disepuh dengan air dari sumur khusus yang ada di Parakan.
Kabar itu kemudian menyebar secara gethok tular diantara laskar laskar pejuang. Merekapun rame rame membawa bambu yang sudah diruncingkan salah satu ujungnya untuk disuwuk pak kiyai. Konon waktu rame bisa 10 ribu orang perhari datang membawa BR ke Parakan.