Lihat ke Halaman Asli

Kamu Mahzab Mana? Bubur Diaduk atau Tidak?

Diperbarui: 8 Oktober 2021   06:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Bubur (Gambar: Shutterstock)

Di balik rasanya yang nikmat, bubur ternyata bisa juga menimbulkan perdebatan. Sejak beberapa tahun lalu, masyarakat pecinta bubur seakan dibagi menjad dua mahzab. Mahzab yang makan bubur diaduk dan yang makan langsung tanpa diaduk.

Masalah ini telah menjadi perdebatan hebat setara dengan perdebatan politik di negeri tercinta ini. Persoalan ini pun banyak menyebabkan keretakan sosial, yang awalnya sahabatan bisa jadi musuhan, yang pacaran bisa putus sampai yang baru PDKT an bisa menjauh. Ngeri kan hehehe

Mungkin agak berlebihan untuk analogi diatas, namun kita akan sependapat jika setiap makan bubur akan ditanya soal mahzab mana yang kita ikuti, kemudian jika terdapat perbedaan akan terjadi saling mempertahankan keyakinannya (serius amat ya).
Tapi tahukan kamu sejarah bubur itu kaya gimana? Jika belum, mari kita telusuri bersama - sama.

Dilansir dari idntimes, bubur merupakan salah satu makanan pertama yang berhasil dibuat manusia, awalnya masyarakat purba membuat makanan ini dari campuran air, susu dan gandum. Orang -- orang yang banyak mengkonsumsinya adalah masyarakat barat seperti Eropa dan Amerika. Sebab tumbuhan gandum lebih banyak ditemukan di wilayat tersebut.

Untuk wilayah asia, disadur dari BBC News, masyarakat Tiongkok lah yang pertama mengkonsumsi bubur sejak tahun 2500 SM. Tentu saja setelah melalui proses adaptasi, karena makanan pokok di wilayah asia kebanyakan memakan nasi, maka bubur yang tadinya dibuat dari susu dan gandum akhirnya di ganti oleh nasi yang lembek.

Yang unik, cara makan bubur di Tiongkok lebih mengarah pada  diminum daripada dimakan (waduh, ada mahzab baru lagi nih, bisa bisa jadi perang antar mahzab bubur). Kenapa seperti itu? Itu karena bubur berfungsi sebagai obat untuk orang sakit, jadi lebih praktis untuk diminunkan.

Beranjak ke abad ini, bubur telah menyebar ke seluruh dunia termsuk indonesia. Di indonesia sendiri, bubur banyak dimakan untuk sarapan dan bisa dengan mudah ditemukan di hampir setiap tempat mulai dari rumah makan, pedagang kaki lima hingga yang berjualan keliling.

Namun entah dari mana, perdebatan bubur diaduk atau tidak itu kemudian  muncul. Tapi jika dilihat dari fungsi dasaarnya, bubur diaduk lebih baik daripada yang tidak diaduk. Dengan mencampur bubur dan semua pelengkapnya akan lebih mudah dicerna oleh tubuh. Selain itu memudahkan orang yang sedang sakit dan anak kecil untuk memakannya, karena semua topping bisa masuk kemulut dalam sekali sendok. Dari segi rasa juga lebih merata dan nikmat sampai sendok terakhir.

Kalau gitu  bubur diaduk menang dong? Jangan senang dulu, karena mahzab bubur tidak diaduk juga  mempunyai kelebihan yaitu dari segi estetika. Alasannya, karena manusia menggunakan hampir semua indra nya saat makan termasuk mata, jadi bubur yang tidak diaduk akan terlihat menggiurkan karena masih menjolkan topping yang akan meningkatkan nafsu makan kita.

Lebih lanjut, menurut studi gabungan dari University Of Oxford, University Of Birmingham dan BI Norwegian Business School tahun 2014, memaparkan bahwa makanan yang estetik bisa meningkatkan nafsu makan hingga 30 persen dibanding makanan yang terlihat abstrak.

Di balik kelebihan, pasti ada kekurangan nya dong. Masing masing mahzab memiliki kekurangan masing masing. Untuk mahzab diaduk memiliki kekurangan bentuk tidak estetik dan tidak instagramable serta mengurangi nafsu makan sebagian besar orang. Untuk mahzab tidak diaduk memiliki kekurangan rasa yang tidak tercampur rata, lebih susah dicerna dan orang tua maupun anak anak susah melahapnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline