Lihat ke Halaman Asli

Darmawan bin Daskim

Seorang petualang mutasi

Tak Selamanya Sisa Itu Lebih Sedikit

Diperbarui: 14 Mei 2021   03:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi adil. (sumber: SHUTTERSTOCK via kompas.com)

Selain nasi jamblang, serabi, tahu petis, bubur sop ayam, dan empal gentong, kuliner yang seakan "wajib" kami sekeluarga nikmati setiap berkunjung ke Kota Cirebon adalah bakso.

Bukannya di tempat kami tinggal tidak ada bakso yang enak, hanya saja rasanya bakso langganan kami di Cirebon ini selalu bikin kangen. Apalagi kalo bicara bakso, istriku agak-agak rewel, tak mudah mendapatkan nilai tinggi dari lidah dia, he he he. Iya kan, Sayang?

Siang itu sebelum masuk waktu dzuhur kami sekeluarga meluncur ke Bakso Apotek Kejaksan Pak Gun yang terletak di Jalan Kartini persis seberang Yogya Junction, di tengah-tengah pusat Kota Cirebon.

Hawa khas Cirebon yang panas di siang itu makin menggugah selera nyantap bakso dengan komposisi lengkap mie, bihun atau soun, bakso sapi besar, bakso sapi kecil, kuah kaldu, dan sayuran. 

Selain sambal, saus, kecap, garam, lada, dan cuka, di meja makan tersedia juga lontong dan kerupuk putih. Lontong? Iya betul lontong sebagai pengganti nasi, sangat cocok untuk makan siang. Untuk minumnya standar tersedia pilihan teh tawar, teh manis, dan teh botol.

Satu lagi penambah nikmat "surga dunia", sebagai dessert tersedia es durian. Buah durian dibalut es krim dilumuri sirup merah rasa pisang susu cap Tjampolay, khas Cirebon sangat pas untuk menutup "ritual" makan bakso di siang hari.

Tak perlu menunggu lama setelah memesan, 4 porsi bakso yang kami tunggu-tunggu terhidang di atas meja. Diawali doa, kami berempat segera menyantap jatahnya masing-masing. 

Karena paginya memilih tidak sarapan, saya dan istri mengambil 1 potong lontong masing-masing untuk direndam dalam mangkuk bergabung bersama kuah kaldu, bakso sapi, dan sambal. 

Lain halnya dengan anak pertama kami yang perempuan dan anak kedua kami yang laki-laki, mereka tidak menambahkan lontong ke mangkuknya karena paginya sudah sarapan bubur sop ayam.

dokpri

Sesaat proses makan berlangsung, istri berucap, "Bakso belum habis, alhamdulillah sudah kenyang." Seketika anak kedua kami yang duduk di kelas 5 SD segera melirik mangkuk bakso mamahnya. 

Di situ terlihat jelas bakso sapi besar masih tersisa 1 butir dan bakso sapi kecilnya tersisa 2 butir. Berarti istri hanya makan 1 butir bakso sapi besar dan 2 butir bakso sapi kecil.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline