Lihat ke Halaman Asli

Penyanyi Rock Terdampar di Desa Rangkat

Diperbarui: 26 Juni 2015   10:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Namaku Sivana Tabei, gadis berumur 17 tahun. Suka pakai sneakers, celana jeans belel, t-shirt warna hitam. Kata orang, aku ini tomboy. Rambutku panjang tak terawat. Sebagaimana hal nya dengan rambut, aku tak suka merawat diri.

Aku baru lulus SMU, dan belum melanjutkan kuliah..iya ..aku malas kuliah, lagipula tak ada biaya untuk aku kuliah. Papa ku, dia Warga Negara Jepang, sudah 2 tahun ini pergi meninggalkan kami, pulang ke kampung halamannya, tanpa ada kabar lagi. Aku dan Mama tinggal di Bali, mama ku berasal dari sini, kami tinggal di ubung.

Aku dan Mama tidak begitu akrab, selayaknya ibu dan anak pada umumnya, dia begitu tak peduli padaku.. Mungkin juga pada papa, sehingga papa meninggalkannya..atau..entahlah..aku tak tahu, aku pun tak peduli pada mereka berdua.

Sejak aku SMU, aku mulai malas jika berada di rumah, waktu ku banyak kuhabiskan dengan teman - teman satu Band.  Aku lebih senang bergaul dengan mereka. Mereka ku anggap lebih dari apa itu keluarga. Kita punya solidaritas yang tinggi, dan saling peduli antara satu dengan yang lain. Band kami terdiri dari 4 personil : Dewa, Wayan , Tespi dan aku. Aku satu - satunya personil cewek, dan aku vocalis di band ini. Musik kami beraliran Rock, penampilan kami pun selayaknya penampilan band cadas lainnya. Band kami ini dirintis sejak kami duduk di bangku kelas 1 SMU. Ikut festival musik kemana - mana, sampai pernah menjadi band pembuka konser salah satu group bad rock terkenal di negeri ini. Mulai dari saat itu, band kami mulai dikenal, dan satu tahun kemudian mendapat tawaran untuk main di cafe - cafe.

Ketika aku berumur 16 tahun, aku sudah melekatkan tatoo permanen di tubuh ku, di tengkuk dan pangkal betis sebelah kiri. Aku ingat begitu marahnya mama ketika melihat tatoo ku. Tapi sekarang, aku sudah begitu kebal dengan omelannya. Ku banting pintu kamar, dan pasang musik keras - keras. Selesai!!

Sebenarnnya, aku sudah ingin keluar dari rumah ini, toh mama tak pernah peduli padaku. Tetapi untuk saat ini, aku belum punya cukup uang untuk kost sendiri. Uangku lebih banyak kuhamburkan untuk membeli obat - obat yang kini telah menjadi canduku. Obat- obat itulah yang bisa membuat  aku tenang, apalagi ketika aku di rumah. Dalam sehari, mungkin kurang dari dari 10 menit aku berbicara pada mama. 1 menit percakapan basa - basi, memasuki menit berikutnya, sudah seperti biasa, pasti omelan dengan nada - nada tingginya. Jadi selebihnya, lebih baik aku masuk kamar, dan mendengarkan musik - musik keras kesukaan ku. Tetapi.. walaupun aku sudah di kamar dan pasang musik dengan suara keras..kadang masih saja ku dengar sayup - sayup omelannya,,seperti sekarang ini..

"ivaaaaa!!! matiin musiknyaa,,kalo enggaaa ..."

-bersambung

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline