Di antara bayang malam yang menghilang,
Terperangkap dalam sunyi yang pilu,
Harap kini bangkit, jiwaku yang ragu,
Di pelupuk mata kedua, titipkan impian.
Dalam langkah terbata, mencari jalan,
Jejak yang hilang, terhapus angin,
Namun semangat meronta takkan pudar,
Di pelupuk mata kedua, ada sinar terang.
Lemah terjatuh, meratap pilu waktu,
Hati remuk redam, tertutup keruh duka,
Namun di balik reruntuhan jiwa yang lara,
Di pelupuk mata kedua, menyala bara suka.
Bersama fajar, kembalikan diri menggapai,
Cakrawala harapan membuka jalan baru,
Rajut asa nan suci, bak embun di pagi,
Di pelupuk mata kedua, bersinarlah arti.
Langit membiru, nyanyikan pesona,
Menghapuskan lara dalam irama sunyi,
Dalam kembang yang merekah, hiduplah semula,
Di pelupuk mata kedua, cinta tumbuh jadi cerita.
Bersemi, tumbuh, mekar bak bunga permai,
Kehidupan kembali dengan gemilang berahi,
Hidup dalam arti, dan cinta dalam hati,
Di pelupuk mata kedua, abadi membara jati.
Kini langit tersenyum, bintang berkelip,
Roda kehidupan berputar lagi,
Dalam setiap hela, takkan pernah pudar,
Di pelupuk mata kedua, kau dan aku, selamanya.
Di pelupuk mata kedua, kisah abadi tercipta,
Kehidupan kembali, berpadu dalam cinta.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H