Lihat ke Halaman Asli

Sirilus

pencinta budaya terutama budaya Manggarai dan filsafat. Juga ingin studi antropologi.

Menerima Kekalahan Esensi Petarung Sejati, Belajar Pada Anak Kecil

Diperbarui: 15 Februari 2024   03:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://www.kompasiana.com/yolis45758/613afaad010190567b343e52/kebiasaan-kebersamaan-orang-tilong?page=2

Seorang petarung sejati akan mengakui ketangguhan seorang lawan saat mengalami kekalahan. Petarung sejati akan mengakui bahwa lawannya lebih hebat dari kekuatannya. Petarung sejati akan menemukan sendiri alasan penyebab kekalahannya, yang menjadi pembelajaran untuk menang di petarungan berikutnya. Kompetisi adalah hal biasa dalam kehidupan. Keinginan untuk bertarung itu tekad pribadi untuk menyiapkan diri dalam kalah-menang. Petarung sejati tidak memiliki dendam saat mengalami kekalahan. Berdamai dengan kekalahan dan memuji kemenangan lawan bagian dari kekhasan prinsip hidup.

Saya seringkali mengalami kekalahan dalam permainan bola kaki bahkan dalam perebutan juara dalam dunia Pendidikan dan kekuasaan saat bekerja. Kekalahan itu membawa saya pada kedewasaan dan ketekunan untuk belajar dan berlatih lebih giat. Tanpa dendam atau iri hati dengan mereka yang juara dan berprestasi. Kehebatan dan keunggulan mereka tentu diraih dengan kerja keras dan saya perlu belajar dari mereka untuk bisa menjadi seperti mereka. Itulah prinsip yang saya bangun dalam hidup.

Perasaan dendam dan iri hati saat mengalami kekalahan itu menunjukkan bahwa tidak adanya tipe petarung dalam diri. Pengorbanan dalam kompetisi tidak sia-sia jika kalah, tapi sesuatu pembelajaran untuk hidup selanjutnya.  Kekalahan bukan berarti kemampuan kita dibawah rata-rata atau bukan karena kita tidak diakui. Hanya untuk saat petarungan itu mereka yang patut diakui.

Manusia sebagai mahluk sosial yang hidup berelasi dengan semua orang tanpa memandang latar belakang dan status sosial tetap bertumbuh dalam diri. Begitupun dalam petarungan, mengalami kekalahan tetap berdamai dan berelasi dengan mereka yang menang. Tetap berdialog dan memberikan pandangan-pandangan untuk sesuatu yang lebih baik jika itu dalam sebuah organisasi.

Konteks yang sedang terjadi saat ini adalah petarungan perebutan kursi kekuasaan di PEMILU. Banyak calon yang selama berbulan-bulan bekerja keras, berjalan dari daerah yang sat uke daerah yang lain untuk kompanye demi memenangkan kompetisi. Kerja keras dan kerja tim ditunjukkan demi mencapai kekuasaan itu. Meskipun demikian tetap mengalami kekalahan tidak boleh putus asa dan dendam dengan yang menang. Tetap menyampaikan inspirasi melalui mereka yang menang berkaitan dengan tekad dan cita-cita kita disaat menang. Inilah ciri khas sebagai mahluk sosial.

Bagaimana seorang petarung sejati dapat menerima dengan baik kekalahan? Yang jelas tidak menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Ketika terjadi menyalahkan diri sendiri dan orang lain, tindakan-tindakan yang dapat merusak diri bisa saja terjadi dengan mengambil tindakan-tindakan yang berbahaya. Kemudian mulai untuk berdialog dengan orang lain dan tidak boleh menyendiri. Berpikir secara terus menerus berkaitan kekalahan dan menyendiri bisa membawa penyakit pada tubuh. Kemudian mulai membangun strategi baru untuk petarungan selanjutnya.

Belajar Dari Anak Kecil

Mengapa saya katakana belajar dari anak kecil? Anak-anak kecil yang saat bermain berkelahi secara tiba-tiba. Perkelahian itu hanya berlangsung dalam waktu singkat. Setelah itu mereka kembali bermain bersama, dan tertawa bersama. Disaat ada yang memiliki snack saling berbagi. Tidak ada dendam dan iri hati diantara mereka. Sudah berkelahi tetap bermain bersama begitu juga disaat ada yang memiliki snack tetap berbagi. Mereka anak-anak kecil memperlihatkan relasi sosial yang tulus, baik dan penuh warna-warni keindahan. Terkadang sebagai orang dewasa melihat mereka seperti itu membawa hiburan tersendiri bagi kita. Sebagai petarung disaat mengalami kekalahan, kembalilah konsep berpikir seperti anak kecil, tetap berdamai dan hidup bersama dengan harmonis.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline