Penulisan sejarah haruslah dilakukan seobjektif mungkin, jauh dari keinginan keinginan subjektif. Semangat ini lah yang ada dalam diri saya selaku penulis di Kompasiana. Salah satu cara untuk membuat sejarah tertulis secara objektif adalah dengan memadukan beberapa pandangan para sejarawan dan mengambil benang merahnya, termasuk dengan membawa semua pandangan itu melalui symposium.
Penulis selaku sekretaris Karo Foundation yang mepunyai salah satu visi merevitalisasi peradaban Suku Karo melalui 3 sudut pemikiran : Sejarah Karo, Akasara Karo dan Budaya Karo.
Pada tulisan ke 4 ini penulis ingin mengangkat pandangan 3 kelompok sejarawan/dosen pendidik sejarah melalui 3 tulisan mereka. Mereka berasal dari 3 benua yang berbeda
- Muhammad Fadlin dan Heristina Dewi (Asia)
- Virginia Matheson Hooker (Australia)
- Daniel Perret (Eropah )
Penulis punya harapan tinggi dengan tulisan ini membuat semakin banyak info mengenai Kerajan Haru dan Suku Karo sehingga pada saat nya tiba, kita bisa menuliskan Sejarah Kerajaan Haru dalam Penulisan Sejarah Nasional Indonesia.
A. Muhammad Fadlin dan Heristina Dewi, karya penting yang berkaitan dengan Kerajaan Haru adalah artikel berjudul "The Haru Kingdom in Sumatra Crosses the Ages". Artikel ini dipublikasikan dalam jurnal akademis dan menjadi salah satu kajian mendalam mengenai eksistensi Kerajaan Haru di Sumatera Utara.
Artikel "The Haru Kingdom in Sumatra Crosses the Ages" karya Muh Fadlin dan Heristina Dewi membahas sejarah Kerajaan Haru yang terletak di pesisir timur Sumatera Utara, Indonesia, dari abad ke-13 hingga abad ke-16.
Drs. Fadlin, M.A. dan Dra. Heristina Dewi, M.Pd. adalah akademisi yang berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (USU), khususnya dalam bidang Etnomusikologi.
1. Pendahuluan
Kerajaan Haru memiliki hubungan sosio-historis dengan berbagai kerajaan di Nusantara, seperti Lamuri, Melaka, Samudera, Majapahit, Pagaruyung, dan Jambi. Sultan Deli dianggap sebagai kelanjutan politik dari Kerajaan Haru. Masyarakat Melayu Deli terbuka menerima etnis lain menjadi bagian dari Melayu melalui konsep asimilasi dalam tiga kategori sosial: Melayu asli, Melayu semenda, dan Melayu seresam. Setelah tahun 1946, ketika kekuasaan politik kesultanan Melayu menurun, beberapa etnis mencari kembali identitas asal mereka. Konsep ini dapat ditelusuri sejak masa Kerajaan Haru yang muncul sebagai kekuatan politik terkemuka pada abad ke-13 dan memberikan identitas budaya bagi kesultanan Melayu di Sumatera Timur.
2. Keberadaan Kerajaan Haru