Lihat ke Halaman Asli

Nanang Diyanto

TERVERIFIKASI

Travelling

Penemuan Mayat dan Mitos Sungai Sekayu, Ponorogo

Diperbarui: 1 Maret 2018   01:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setelah 7 hari kurban tenggelam di sungai Sekayu Ponorogo ditemukan

Setelah hampir seminggu pencarian korban tenggelam di Sungai Sekayu Ponorogo, sore tadi mulai menemukan titik terang. Telah diketemukan sesosok mayat laki laki, pada pukul 3-an sore.

Lokasi Sungai Sekayu dalam wilayah kelurahan Pinggirsari, lebih kurang 2-3 km dari lokasi tenggelamnya korban.

BPBD Ponorogo, Polri-TNI dan warga melakukan evakuasi

Menurut mas Bayus petugas BPBD Ponorogo sosok tersebut kemungkinan teridentifikasi sdr. Khoirul Syamsi (24th), warga desa Kwajon, kecamatan Bungkal, Ponorogo. Yang tenggelam di sungai Sekayu dusun Mancaan kelurahan Paju, Ponorogo pada hari Rabu (21 Februari 2018). Namun untuk lebih jelasnya korban dibawa ke RSUD Harjono untuk dilakukan identifikasi dan visumnya.

Korban mengalami celaka saat bersama tiga temannya memancing di sungai Sekayu daerah Mancaan. Saat itu temannya yang bernama Wedi Wicaksono terpeleset dan jatuh ke sungai. Khoirul Syamsi berusaha menolong, temannya berhasil ditolong namun dia malah terbawa arus yang saat itu tiba-tiba air menjadi besar.

Saat itu juga warga sekitar, BPBD Ponorogo, aparat kepolisian dan TNI berusaha menyisir namun tidak membuahkan hasil. Keesokan dan lusa harinya diulangi belum juga menemukan tanda-tanda. Dan baru sore tadi ditemukan warga yang sedang melintas di dekat sungai.

Beruntung cuaca cerah dan lokasi tidak terlalu sulit

Lokasi ditemukannya sosok mayat, maaf gambar sengaja disamarkan

Banyak mitos di sungai ini, warga sekitar yakin korban yang tenggelam di sekitar sungai ini baru akan ditemukan setelah minimal 7 hari, seperti yang dituturkan penambal ban di dekat lokasi pemancingan.

Menurutnya, korban baru dilepaskan bila sudah 7 hari, entah kebetulan atau bagaimana ternyata benar adanya pada kejadian ini. Kalau tidak begitu korban tidak bakalan diketemukan.

Berbeda dengan korban yang tenggelam di daerah sebelum melintasi daerah sungai ini karena cuma lewat, jelasnya lagi. Seperti kejadian sebulan lalu ada orang tenggelam di daerah Sambit cuma melewati sungai ini dan diketemukan di daerah Ngawi.

Menurut pak Nasir sekitar 100 meter dari lokasi mancing adalah pertemuan tiga sungai besar di Ponorogo, orang menyebutnya tempuran. Masyarakat meyakini ini daerah angker, sudah beberapa kali kejadian hal aneh di daerah ini.

Kurban selanjutnya dibawa ke RSUD Harjono Ponorogo untuk keperluan identifikasi dan visumnya

Tak jauh dari tempat ini juga ada daerah yang tak kalah mistis yaitu daerah Klampis Ireng, banyak peziarah baik dari daerah Ponorogo, luar Ponorogo, bahkan dari luar provinsi.

Tempat ini diyakini kerajaan dunia halus, sering disalahartikan untuk mencari pesugihan. Padahal dulu merupakan tempat orang mengasingkan diri untuk bermunajat menjauhkan diri dari keduniawian. Masyarakat sekitar masih menghormati tempat ini, mereka meyakini kalau tidak menggangu tentu tidak akan diganggu, itulah dalam hidup.

Untuk itu masyarakat sekitar seringkali mengingatkan pemancing untuk berhati-hati dalam segala hal waktu memancing. Agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Begitupun kendaraan yang lewat daerah ini untuk membunyikan klakson, mungkin sebagai ucapan permisi, jelas Nasir.

Entahlah ada hubungannya atau tidak peristiwa ini tentu bisa diambil hikmahnya untuk hidup saling menghargai, baik sesama yang nampak maupun makhluk yang tidak nampak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline