Lihat ke Halaman Asli

Budiman Hakim

TERVERIFIKASI

Begitulah kira-kira

Perempuan Tanpa Laki-laki ibarat Ikan Tanpa Sepeda

Diperbarui: 17 September 2018   16:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi pribadi

Saya pernah memposting foto yang bertuliskan kalimat di atas. Di bawahnya tertulis nama orang yang membuat kutipan tersebut; "Gloria Steinem, Penulis Feminist". Teks aslinya berbunyi "A woman needs a man like a fish needs a bicycle". (Buat yang enggak tau penulis ini, silakan googling saja, ya). Postingan tersebut mendapat 616 likes, 312 komen dan lebih dari 1600 shares. Linknya bisa dilihat di sini.

Yang bikin saya merasa aneh, ternyata banyak sekali orang yang enggak ngerti kalimat tersebut. Di ruang komen mereka bertanya, "Apa sih maksudnya kalimat ini? Ikan dan sepeda, kan enggak ada hubungannya?" Tentu saja ada juga yang ngerti tapi yang mempertanyakan kalimat itu jauh lebih banyak. Kira-kira kenapa, ya?

Saya yakin orang-orang yang enggak ngerti itu bukannya bodoh. Tapi mereka tidak terlatih untuk menggunakan otaknya. Kalo mereka mau menganalisis kalimat tersebut kata per kata lalu membaca nama penulis tersebut, mudah sekali mencari maknanya.

Tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, saya merasa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Metode pengajarannya kurang memancing murid untuk berpikir. Akibatnya mereka tidak terbiasa untuk menganalisis sesuatu. 

Di sekolah, kita cenderung disuruh menghapal pelajaran dan menelannya mentah-mentah. Kemudian pas ujian kita diberikan pertanyaan dengan jawaban yang kita hapalkan dari buku.

Untungnya, ada cukup banyak teman-teman saya yang kritis. Mereka sangat pintar dan suka menganalisis dan mencoba mendebat guru yang sedang mengajar. Misalnya pelajaran sejarah, di sekolah menengah. Ada sebagian teman saya yang mempertanyakan sesuatu yang menurut mereka tidak logis. Berikut saya tuliskan beberapa pertanyaan mereka.

"Pak, saya kok belum menemukan alasan kenapa Ibu Kartini bisa menjadi pahlawan. Yang dilakukannya buat saya cuma curhat dengan berkirim surat pada temannya di Belanda. Apakah ada lagi perbuatannya yang lain sehingga dia pantas menyandang gelar pahlawan?" tanya anak itu polos.

"Bu, kalo Pangeran Diponegoro berperang karena tanah miliknya mau diambil oleh Belanda berarti dia cuma membela hak kepemilikannya, dong? Dia berperang bukan untuk negeri ini. Kok bisa jadi pahlawan, sih?" tanya yang lain lagi.

"Pak, Jenderal Soedirman kepahlawanannya di mana, ya? Kalo saya baca bukunya, keliatannya dia cuma seorang pemimpin yang sakit TBC, ditandu ke mana-mana oleh anak buahnya karena dikejar-kejar tentara Belanda. Enggak ada satu pun tertulis dia pernah menembak tentara Belanda sampai mati," tanya yang lain lagi

Ada lagi yang bertanya, "Bu, saya rasa Indonesia dijajah Belanda bukan 350 tahun. Hitungannya dimulai dari Cornelis de Houtman saat mendarat di Pelabuhan Banten, tahun 1596. Waktu itu dia kan baru mendarat, masak udah dihitung kita dijajah sih? Lagi pula Cornelis De Houtman itu kan datangnya tidak mewakili pemerintahan resmi Negara Belanda."

Dan tau enggak apa yang terjadi? Semua guru tanpa terkecuali marah besar mendengar pertanyaan itu. Bahkan yang menanyakan soal Jenderal Soedirman, pipinya digampar lalu kena skors seminggu enggak boleh masuk sekolah. Meraka dianggap kurang ajar karena mempertanyakan kepahlawanan seseorang yang sudah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline