Natal yang dirayakan pada 25 Desember sebentar lagi tiba. Kemeriahan Natal sudah dapat kita rasakan di mana-mana. Termasuk di pusat perbelanjaan dan rumah makan.Â
Ada satu hal yang sering menjadi perdebatan: perlukah karyawan diwajibkan memakai atribut Natal? Bagaimana jika karyawan itu bukan kristiani? Apakah karyawan yang bukan kristiani wajar diminta memakai atribut Natal? Inilah pendapat jujur penulis, seorang kristiani, mengenai topik hangat yang selalu aktual ini.Â
Natal dan Komersialisasi yang Menyertainya
Sebagai seorang kristiani, saya melihat bahwa Natal modern sudah sangat mengalami komersialisasi. Natal sejatinya adalah perayaan kelahiran Yesus di kandang sederhana di Bethlehem. Natal mengajak kita untuk kembali kepada kesederhanaan, bukan kemewahan.Â
Natal seharusnya bersimbol khas Alkitab: palungan, kandang domba, para malaikat, Maria, Yusuf, tiga orang Majus dari Timur, dan para gembala yang adalah kaum marjinal pada zamannya.
Baca: Renungan dan Inspirasi Khotbah Makna Tema Natal 2023
Natal tidak ada hubungan langsungnya dengan Sinterklas/Santa Klaus, rusa, pohon Natal (justru ini bukan pohon khas Tanah Suci), kereta salju, dan pernak-pernik lainnya. Bahwa simbol-simbol ini menjadi seolah pernak-pernik wajib Natal adalah buah dari pengaruh budaya Eropa dan Amerika Utara.Â
Contoh nyatanya adalah Sinterklas yang baru diciptakan pada tahun 1881. Versi ikonik Sinterklas sebagai pria periang berbaju merah dengan janggut putih dan sekarung mainan diabadikan pada tahun 1881. Waktu itu kartunis politik Thomas Nast memanfaatkan puisi Moore untuk menciptakan citra Santo Nikolaus untuk zaman sekarang.
Kita tidak anti simbol-simbol tersebut, hanya saja kita perlu memahaminya sebagai pernak-pernik saja, bukan simbol inti dari Natal menurut Alkitab dan iman kristiani. Bahkan, pernak-pernik Natal yang ditampilkan di pusat perbelanjaan, restoran, dan ruang publik sering kali merupakan representasi dari komersialisasi Natal.Â
Meminjam istilah Kaum Postmodernis, konsumsi adalah contoh kecenderungan individualisasi masyarakat materialistis modern. Dari sudut pandang argumen individualisasi ini, mereka melihat konsumsi sebagai pusat pembentukan identitas melalui penanaman gaya hidup (Bauman, 1988; Beck, 1992; Giddens, 1991).Â