Lihat ke Halaman Asli

Ruang Berbagi

TERVERIFIKASI

🌱

Polisi Jujur Masih Banyak, Ini Kisah dan Kesaksian akan Tiga Paman Anggota Polri Budiman

Diperbarui: 21 Juni 2020   10:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Masyarakat yang terkena serangan jantung di Halte TransJakarta, Jumat (14/2/2020) digendong oleh petugas kepolisian menuju RS Harapan Kita, Jakarta.(TMC Polda Metro Jaya) via Kompas.com

Belum lama ini heboh berita penangkapan seorang warga Kepulauan Sula, Maluku Utara gegara ia mengunggah humor lawas Gus Dur tentang polisi. Isi humor tersebut adalah bahwa ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.

Ismail Ahmad, sang pemuda Maluku tersebut memang hanya dikenai wajib lapor saja, namun kasus ini menarik perhatian publik. Tak kurang, Alissa Wahid, putri Gus Dur ikut mengomentarinya. 

Sebabnya, humor itu memang pernah disampaikan Gus Dur semasa hidupnya dan bermakna positif sebagai pengingat bagi anggota kepolisian agar menjunjung tinggi kejujuran. 

Selama ini, cukup banyak stigma negatif tentang anggota polisi dan Polri. Maklum saja, yang lebih sering jadi berita adalah kelakuan oknum polisi yang tidak baik. Ini bisa memengaruhi minat anak muda untuk berkarir jadi anggota Polri. 

Padahal, karir sebagai anggota polisi adalah suatu yang amat mulia. Tambah lagi, reformasi birokrasi Polri semakin mengarah pada profesionalitas, juga dalam proses seleksi calon anggota polisi. 

Mau bukti? Ada banyak anak orang sederhana yang diterima jadi polisi tanpa uang suap. Bahkan, peraih Adhi Makayasa tahun 2019 dari Akademi Polisi diraih oleh Muhammad Idris yang ayahnya seorang petani sederhana. Di Manado, seorang anak tukang ojek jadi taruna polisi.

Polisi Jujur dan Bijaksana Masih Banyak

Pengalaman saya, anggota polisi yang jujur dan bijaksana masih banyak. Pendapat ini bukan karena saya memiliki tiga paman dalam keluarga besar kami, yang adalah anggota Polri, lho. Hehe...

Kisah pertama saya alami bertahun silam, saat mengurus pembuatan SIM C baru di sebuah Polres di Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu itu, saya menempuh prosedur resmi yang telah ditetapkan. 

Jumlah ongkos yang saya keluarkan persisnya lupa, tetapi tidak mahal karena memang mengikuti aturan. Dengan ramah Pak Polisi, yang sayangnya saya lupa namanya, melayani pembuatan SIM C saya. 

Waktu itu memang tidak wajib tes praktik. Saya hanya diminta mengerjakan tes tertulis secara manual. Konyolnya, saya tidak belajar dulu sehingga kesulitan mengerjakan tes itu. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline