Lihat ke Halaman Asli

Bintang Riksa Abimata

Undergraduate Student at Departement of Agronomy and Horticulture, IPB University

Mahasiswa KKN-T IPB Lakukan Penyuluhan Pencegahan Stunting dan Demo Masak di Posyandu Dusun Wonoayu

Diperbarui: 28 Juli 2022   14:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kegiatan penyuluhan pencegahan stunting telah dilaksanakan oleh mahasiswa KKN-T IPB Kelompok 4 Kabupaten Lumajang di Posyandu Dusun Wonoayu (dokpri).

Stunting adalah kondisi saat anak mengalami perlambatan pertumbuhan akibat kurang gizi dalam jangka waktu lama dan menyebabkan anak menjadi lebih pendek dibanding anak seusianya. 

Pada tahun 2021 silam, angka prevalensi stunting di Indonesia masih berada di nilai 24,4% yang mana nilai tersebut masih berada di kategori tinggi menurut acuan stunting WHO. 

Kejadian stunting yang masih tinggi di Indonesia dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain perilaku asuhan dan pola makan yang kurang baik serta kebersihan rumah dan lingkungan rendah. 

Dampak kejadian stunting pada anak adalah terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak, menurunnya kecerdasan, dan menurunnya imunitas tubuh anak. Hal tersebut juga dapat berpengaruh pada negara karena dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. Melihat besarnya dampak yang diakibatkan oleh kejadian stunting, pemerintah Indonesia menargetkan Zero Stunting pada tahun 2030 untuk seluruh wilayah Indonesia.

Bidan Desa Wonocepokoayu, Ibu Betty, menyatakan bahwa kejadian stunting di Desa Wonocepokoayu sudah berada di kategori rendah. Pada tahun 2022 ini, kejadian stunting pada anak usia 0-24 bulan hanya berjumlah 1 anak dari 72 anak yang berusia 0-24 bulan di Desa Wonocepokoayu. Kejadian stunting terbesar berada di Dusun Wonoayu dengan jumlah kejadian sebesar 2 anak, yaitu kejadian ditemukan pada bayi usia 23 bulan dan bayi usia 25 bulan. Lalu, jumlah ibu dengan bayi usia 0-24 bulan terbanyak berada di Dusun Wonoayu dengan jumlah sebesar 25 ibu dengan bayi, sedangkan jumlah keseluruhan ibu dengan anak usia 0-60 tahun adalah sebesar 61 ibu. Kemudian, jumlah ibu hamil di Dusun Wonoayu yaitu hanya sebesar 4 ibu hamil.

Oleh karena itu, pemberian penyuluhan pencegahan stunting terlebih dahulu difokuskan di Dusun Wonoayu. Ibu Betty menyampaikan salah satu penyebab kejadian stunting di Dusun Wonoayu adalah pemberian MP-ASI terlalu dini dan kurangnya PHBS di rumah, sehingga materi penyuluhan terfokus pada MP-ASI dan PHBS di rumah tangga. 

Penyuluhan terkait pencegahan stunting adalah salah satu cara dalam pemberian edukasi kepada ibu hamil dan ibu dengan balita untuk mencegah terjadinya peningkatan kejadian stunting di Dusun Wonoayu.

Pelaksanaan penyuluhan pencegahan stunting dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan bulanan posyandu, sehingga diharapkan angka partisipasi ibu hamil dan ibu dengan balita bisa mencapai jumlah maksimal. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh ibu Kepala Dusun, yaitu Ibu Hartati, dan para ibu Kader Dusun Wonoayu. 

Selain pemberian edukasi pencegahan stunting melalui materi MP-ASI dan PHBS, mahasiswa KKN-T IPB juga mengadakan demo masak menu PMT atau Pemberian Makanan Tambahan untuk ibu hamil dan MP-ASI atau Makanan Pendamping-Air Susu Ibu untuk bayi usia 6-9 bulan. Mahasiswa KKN-T IPB Kelompok 4 Kabupaten Lumajang 2022 menyiapkan media edukasi tambahan dalam bentuk leaflet sebagai bahan bacaan ibu hamil dan ibu dengan balita di rumah.

Isi materi leaflet pencegahan stunting yang telah dibuat oleh mahasiswa KKN-T IPB Kelompok 4 Kabupaten Lumajang (dokpri & Freepik).

Materi edukasi pencegahan stunting disampaikan oleh salah satu mahasiswa KKN-T IPB Kelompok 4 Kabupaten Lumajang 2022 dari Departemen Gizi Masyarakat, yaitu Rahma Anisa Saliha. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline