Lihat ke Halaman Asli

Bhayu MH

WIrausaha - Pelatih/Pengajar (Trainer) - Konsultan MSDM/ Media/Branding/Marketing - Penulis - Aktivis

Apa Alasan Rakyat Memilih Calonnya?

Diperbarui: 12 Februari 2024   21:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suasana TPS saat Pemilu terdahulu. (Foto: Bhayu M.H.)

"Kalau gue suka, lu mau apa?" begitulah sepotong kalimat Kafi Kurnia yang saya ingat saat ia menjadi pembicara di pertemuan terbatas anggota IYE! (Indonesia Young Entrepreneurs) di mana saya menjadi anggotanya. Waktu itu kira-kira tahun 2000-an, sebelum Pemilu dilaksanakan secara langsung untuk memilih Calon Presiden dan Wakil Presiden (CPWP) di tahun 2004. Karena kami para usahawan, maka konteks kalimatnya tentu dalam soal penawaran dan penjualan barang dan jasa. Apalagi profil Kafi Kurnia adalah pakar pemasaran dan periklanan.

Meski begitu, sebenarnya baik penjualan, pemasaran, perdagangan barang dan jasa komersial maupun politik praktis tidak begitu berbeda. Karena semuanya sama-sama menjual sesuatu. Politik praktis, selain menjual ide berupa visi, misi, dan program kerja, juga "menjual orangnya". Tentu bukan dalam arti "trafficking" atau "perdagangan orang", melainkan meminta agar pemilih memilih orang tersebut. Yang dipilih juga bukan orangnya secara fisik, pemilih tentu tidak bisa membawa pulang calon yang dipilihnya. Melainkan sekadar pencitraannya saja. Ya. Pencitraannya. Bahkan bukan sosok aslinya. Karena sesungguhnya yang tahu sosok asli lengkap dengan kepribadian, karakter, sifat, dan kebiasaannya itu ya hanya dirinya sendiri dan Tuhan. Bahkan keluarga terdekat pun bisa saja keliru menilainya.

Di dalam tulisan singkat ini, saya mencoba menelaah, apa alasan rakyat memilih calonnya. Maaf saya tidak memakai rujukan dari para ahli atau daftar pustaka, semata berdasarkan observasi dan pemikiran saya sendiri. Silakan disimak satu per satu.

Suka, Senang atau Cinta

Perasaan suka adalah satu hal yang kuat dalam diri manusia. Bila mengutip judul lagu karya Gombloh, suka atau cinta membuat "taik kucing rasa coklat". Senang di sini juga dalam konteks menyenangi, bukan senang setelah mendapat hadiah misalnya. Bila seseorang sudah suka, senang, atau cinta kepada seseorang lainnya, maka segala kelemahan dan kekurangannya akan menjadi kabur atau malah jadi nihil. Seperti orang memakai kacamata kuda, apa yang di kanan dan kirinya tidak tampak. Ia hanya fokus ke depan.

Barang atau jasa pun demikian. Dalam konteks pemasaran, keputusan konsumen untuk membeli barang secara mendadak disebut "impulse buying". Karena impulsif, maka tindakan tersebut tanpa perencanaan sebelumnya. Biasanya, kalau dalam pembelian barang atau jasa, ada faktor seperti potongan harga, saran dari teman, atau bentuk promosi lainnya. Namun, seperti kata Kafi Kurnia yang saya kutip di awal tulisan di atas, kalau pembeli sudah menyukai sesuatu dan memutuskan membelinya, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Protes pun tak berguna.

Maaf, biasanya yang melakukan ini adalah kaum perempuan. Emak-emak. Mereka sering tak tahan melihat discount, sale, cuci gudang, dan sebagainya. Padahal, kerap kali barang yang dibeli ya tidak butuh-butuh amat. Malah, bisa jadi ada yang malah sudah punya di rumah. Impulse buying ini didasarkan pada emosi, sehingga memang meniadakan akal sehat. Para pedagang seringkali menjadikannya metode dalam strategi pemasaran dan penjualan.

Dalam konteks politik praktis, para Calon Legislatif (Caleg), Calon Presiden dan Wakil Presiden (CPWP), Calon Kepala Daerah (Cakada) sebagai individu perorangan, hingga Partai Politik (Parpol) sebagai badan, juga kerapkali memakai strategi ini. "Like and dislike" memang bisa membuat seseorang "choose or not choose" sesuatu. Bukan tidak mungkin malah membabi-buta. Bila sudah memihak satu calon perorangan atau partai politik, fanatisme sang pemilih tak jarang menjadikannya sebagai "perkara hidup-mati".

Elektabilitas dan Popularitas

Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan. Popularitas adalah tingkat kepopuleran atau kemasyhuran. Khusus untuk CPWP dan Parpol di tingkat nasional, lazimnya ada sigi dari lembaga survei secara teratur. Bisa dimulai 1-2 tahun sebelum Pemilu diadakan. Sementara bagi yang lain, bisa juga memesan dengan biaya sendiri. Tingkat elektabilitas penting untuk mengukur seberapa besar kemungkinan satu calon dipilih oleh rakyat pemilih.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline