Lihat ke Halaman Asli

Berty Sinaulan

TERVERIFIKASI

Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Bukan Organisasi Sosial, Pramuka Tetap Berbakti Sosial

Diperbarui: 25 Juli 2020   15:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Para Pramuka di Kalimantan Timur membagikan pelindung wajah kepada masyarakat. (Foto: Kwarda Kaltim)

Pramuka atau pernah disebut Pandu atau di luar negeri dikenal dengan nama Scout adalah sebutan bagi anggota suatu organisasi. Apakah namanya Gerakan Pramuka atau Gerakan Kepanduan atau bahkan Scouting Movement, apa pun itu namanya. Organisasi ini adalah organisasi pendidikan nonformal, melengkapi pendidikan informal di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta pendidikan formal di sekolah.

Organisasi ini bukanlah organisasi sosial, dalam arti organisasi yang memberikan bantuan sosial. Namun dalam kegiatannya, para Pramuka banyak melakukan kegiatan bakti sosial atau bakti kemasyarakatan. 

Sebagai contoh nyata, baru-baru ini Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Kalimantan Timur dipimpin Ketuanya, Hatta Zainal, membagikan pelindung wajah (face shield) kepada para pelaku usaha kecil dan menengah, pedagang sayuran, pedagang kue, dan lainnya di Kota Samarinda dan Tenggarong.

Sementara di Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang daerahnya baru saja dilanda banjir, Satuan Reaksi Cepat Pramuka Peduli Kwarda Sulsel, juga melakukan aksi bantuan sosial. Termasuk membantu upaya pemulihan kondisi psikis (trauma healing) bagi anak-anak korban banjir, dengan mengajak mereka bermain dan belajar bersama, untuk melupakan tragedi banjir tersebut.

Aksi-aksi bantuan sosial dilakukan Pramuka, karena kegiatan seperti itu memang merupakan bagian dari kode kehormatan yang harus ditaati seorang Pramuka. 

Kode kehormatan berbentuk Dwi Satya (untuk Pramuka Siaga 7-10 tahun) dan Tri Satya untuk golongan lainnya, serta Dwi Darma (untuk Pramuka Siaga) dan Dasa Darma untuk golongan lainnya, dengan tegas menyebutkan bahwa seorang Pramuka harus siap memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkannya. "Menolong sesama hidup" dan "mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat", menjadi kalimat-kalimat kunci dalam kegiatan-kegiatan kepramukaan yang bersifat bakti sosial.

Kegiatan "trauma healing" untuk anak-anak korban banjir di Luwu. (Foto: Kwarda Sulsel)

Terkait dengan hal itu juga, maka di saat pandemi Covid-19 saat ini, para Pramuka di seluruh dunia juga tak berdiam diri. Masing-masing melakukan aksi berbentuk bakti sosial semampu mereka. 

Ada yang menyebarkan informasi cara menjaga kesehatan termasuk cara mencuci tangan yang baik, ada yang membuat masker kain maupun larutan pencuci tangan untuk dibagi-bagikan kepada yang memerlukan, sampai ikut dalam aksi penyemprotan desinfektan. Bahkan ada pula yang tergabung dalam gugus tugas penanganan Covid-19.

Bakti sosial semacam itu juga sudah sejak lama dilakukan para Pramuka. DI lingkungan Gerakan Pramuka misalnya, tema besar tahun ini yang digunakan adalah "Peranan Gerakan Pramuka Ikut Membantu Dalam Penanganan Bencana Covid-19 dan Bela Negara". 

Sesungguhnya, berbagai aksi bakti sosial termasuk membantu penanganan pandemi Covid-19 juga merupakan bagian dari bela negara yang dilakukan para Pramuka. 

Sejalan dengan kode kehormatan Gerakan Pramuka yang antara lain berbunyi, "Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, ...".

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline