Lihat ke Halaman Asli

Berty Sinaulan

TERVERIFIKASI

Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Saat yang Muda Pimpin Gerakan Kepanduan, Ke Mana yang Tua?

Diperbarui: 16 November 2016   14:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dede Yusuf, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat, yang juga belum terbilang tua, berusia 50 tahun, dan masih aktif berkegiatan di alam terbuka. (Foto: R. Andi Widjanarko, ISJ)

Gerakan Kepanduan Sedunia, World Organization of the Scout Movement (WOSM), sudah memulai tradisi baru. Memilih Sekretaris Jenderal  (Sesjen) yang baru berusia 32 tahun. Selama ini, selama berpuluh tahun, Sesjen WOSM biasanya berusia di atas 50 tahun.

Gerakan kepanduan memang bukan organisasi pemuda, melainkan organisasi pendidikan. Tepatnya organisasi pendidikan non-formal, melengkapi pendidikan informal di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta pendidikan formal di sekolah. Walaupun demikian, gerakan kepanduan yang di Indonesia dikenal dengan nama Gerakan Pramuka, sangat erat kaitannya dengan kaum muda. Objek dan sekaligus subjek pendidikan adalah kaum muda, anak-anak dan remaja yang berusia antara 7 sampai 25 tahun.

Itulah sebabnya, pemilihan kaum muda menduduki posisi penting di gerakan kepanduan, dianggap sebagai hal yang tepat. Karena usia pemegang posisi penting gerakan kepanduan yang masih muda, maka yang bersangkutan akan lebih mudah memahami kebutuhan kaum muda. Dia juga akan dapat lebih mengerti cara-cara yang diinginkan kaum muda untuk mendapatkan kebutuhannya.

Secara mudah mungkin dapat dianalogikan, ketika anak muda bicara bahasa slang,  dengan istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh mereka, kaum tua mungkin kebingungan menerjemahkannya. Demikian pula, dengan hal-hal yang digandrungi kaum muda, misalnya musik atau hobi seperti cosplay atau menontoh film dan bermain game komputer, bisa jadi dianggap aneh dan membingungkan oleh kaum tua.

Ngapain sih musik berisik seperti itu?”, atau, “Apa sih maksudnya pakai kostum dan aksesoris aneh-aneh keliling ke sana-ke mari”, begitu mungkin sebagian komentar kaum tua terhadap perilaku kaum muda.

Kini kehadiran Ahmad Alhendawi dari Yordania yang bakal menjadi Sesjen WOSM pada Maret 2017, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Utusan Kaum Muda yang pertama di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), disambut gembira. Baru berusia 32 tahun, diharapkan dia mampu lebih mengerti keinginan dan kebutuhan kaum muda.

Contoh dari Bear Grylls

Sebenarnya, sudah sejak akhir 1990-an atau awal 2000-an, di kalangan sejumlah penggiat gerakan kepanduan di berbagai negara, dibahas perlunya gerakan kepanduan dipimpin oleh tokoh-tokoh muda. Seperti sudah disebutkan, hal itu akan membantu organisasi lebih mengerti terhadap keinginan dan kebutuhan kaum muda yang menjadi anggota organisasi tersebut.

Lagi pula, sebagai organisasi yang mengutamakan kegiatannya di alam terbuka, pimpinan organisasi yang berusia muda, tentu lebih lincah dan semangat bergerak dalam berkegiatan. Gerakan kepanduan Inggris, yang menjadi tempat lahirnya gerakan kepanduan sedunia, adalah contohnya. Mereka pernah memilih Bear Grylls, sebagai pimpinan organisasi di sana beberapa tahun lalu.

Bear Grylls adalah nama yang sudah amat terkenal bagi mereka yang aktif berkegiatan di alam terbuka. Penulis, petualang alam terbuka, dan pembawa acara televisi itu, mempunyai keahlian beragam di alam bebas. Mulai dari mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, sampai kemampuan bertahan hidup (survival), kegiatan-kegiatan yang banyak disenangi kaum muda di mana-mana.

Contoh Bear Grylls adalah contoh yang ideal. Namun nyatanya, masih banyak organisasi kepanduan di banyak negara yang pimpinannya masih diisi oleh mereka yang telah berusia cukup tua. Di atas 50 tahun, bahkan ada juga yang di atas 60 dan 70 tahun.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline